Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-04-14 13:12:48    
Proses Lahirnya Lima Prinsip Hidup Berdampingan Secara Damai

cri

Pada tahun 1947 dan 1949, rakyat India, dan Tiongkok yang mengalami penindasan imperialisme dan kolonialisme dalam jangka panjang melalui perjuangan berturut-turut mendapat kemerdekaan dan pembebasan. India adalah negara non-sosialis yang pertama menjalinkan hubungan diplomatik dengan Tiongkok Baru. Namun sejumlah masalah peninggalan sejarah akibat kolonialisme Barat mengganggu perkembangan hubungan kedua negara. Pada bulan September dan Oktober pada tahun 1953, Perdana Menteri Tiongkok dan India melalui jalan diplomatik menetapkan bahwa wakil pemerintah kedua negara mengadakan perundingan di Beijing pada Desember untuk menyelesaikan masalah hubungan Tibet Tiongkok dengan India.

Setelah konsultasi selama 4 bulan, kedua pihak pada tanggal 29 April tahun 1954 menandatangani Persetujuan Tiongkok-India Mengenai Perdagangan dan Transportasi Antara Tibet Tiongkok dan India. Lima Prinsip Berdampingan secara Damai yang diajukan Perdana Menteri ketika itu Zhou Enlai dituliskan ke dalam prelude persetujuan tersebut dan menjadi patokan yang membimbing hubungan kedua negara. Ini merupakan pertama kali Lima Prinsip Berdampingan secara Damai dituliskan ke dalam dokumen resmi yang ditandatangani antar negara.

Pada Juli tahun 1954, dalam perjalanan pulang ke tanah air setelah menghadiri Konferensi Jenewa, Zhou Enlai mengunjungi India dan Nyanmar. Dari tanggal 24 sampai tanggal 28 Juni, atas undangan Perdana Menteri India Jawaharal Nehru, Zhou Enlai mengunjungi India. Selama kunjungannya, Zhou Enlai mengadakan 6 kali pembicaraan resmi dengan Perdana Menteri Nehru.

Pada tanggal 28 Juni, Perdana Menteri Tiongkok dan India mengeluarkan pernyataan bersama. Pernyataan menunjukkan: "baru-baru ini Tiongkok dan India mencapai persetujuan yang menentukan sejumlah prinsip untuk membimbing hubungan antara kedua negara. Prinsip-prinsip tersebut ialah: pertama, saling menghormati kedaulatan wilayah; kedua, saling tidak mengagresi; ketiga, saling tidak mengintervensi urusan dalam negeri; keempat, sama derajat dan saling menguntungkan; dan kelima, hidup berdampingan secara damai. Perdana Menteri kedua negara menegaskan kembali prinsip-prinsip tersebut, dan merasa prinsip-prinsip itu tersebut juga cocok dalam hubungannya dengan negara-negara lain di Asia dan dunia. Kalau prinsip-prinsip itu tidak hanya cocok antar berbagai negara, tapi juga cocok hubungan internasional yang biasa, dan akan membentuk landasan kokoh perdamaian dan keamanan. Sedangkan kekhawatiran yang berada akan digantikan dengan rasa percaya.

Selanjutnya, Zhou Enlai atas undangan Perdana Menteri Myanmar U Nu mengunjungi Myanmar dari tanggal 28 sampai tanggal 29 bulan Juni dalam pembicaraan, Zhou Enlai mengatakan kepada U Nu: "Negara-negara di dunia, besar atau kecil, kuat atau lemah, biarpun bagaimana sistem sosial, asal dengan Lima Prinsip Berdampingan secara Damai menangani hubungan satu sama lain, dapat hidup berdampingan secara damai." "Politik Tiongkok Baru adalah politik damai, kami bersedia menurut Lima Prinsip Berdampingan secara Damai bersahabat dengan semua negara di dunia, apalagi Myanmar adalah negara persaudaraan Tiongkok." Zhou Enlai mengusulkan menyeluarkan satu pernyataan mengenai hal tersebut, U Nu menyatakan setuju. Pada tanggal 29 Juni, Pernyatan Bersama Perdana Menteri Tiongkok Dan Myanmar dikeluarkan dengan mengumumkan Lima Prinsip Berdampingan secara Damai "sebagai prinsip pembimbing hubungan antara Tiongkok dan Myanma", "kalau prinsip tersebut dapat ditaati oleh senua negara, negara-negara yang berbeda sistem sosialnya mendapat jaminan untuk berdampingan secara damai. Sedangkan, ancaman agresi dan intervensi terhadap urusan dalam negeri dan kekhawatiran terhadap agresi dan intervansi terhadap urusan dalam negeri akan digantikan dengan rasa aman dan saling percaya.

Lima Prinsip Berdampingan secara Damai yang diprakarsai Tiongkok-India dan Tiongkok-Myanmar segera mendapat perhatian dan pujian opini internasional, dan mendapat dukungan dan setuju dari banyak negara terutama negara-negara Aisa, Afrika dan Amerika Latin.