Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-04-14 18:24:20    
Konferensi Bandung Dirikan Panggung Bagi Tiongkok Baru

cri

Konferensi Asia Afrika pertama yang dibuka di Bandung tanggal 18 April tahun 1955 adalah titik tolak baru sejarah dunia, juga merupakan titik tolak baru yang mempunyai arti monumental bagi Tiongkok Baru di arena internasional.

Tanggal 22 Januari 1955, Perdana Menteri Zhou Enlai menerima surat undangan dari Duta Besar Indonesia untuk Tiongkok, Mononutu, yang menyampaikan undangan atas nama pemerintah Indonesia kepada Republik Rakyat Tiongkok untuk menghadiri Konferensi Asia Afrika di Bandung. Bagi Tiongkok Baru, hal ini mempunyai arti sangat penting.

Ketika kabar tentang Tiongkok diundang menghadiri Konferensi Asia Afrika sampai di telinga Allan Dulles, Direktur Biro Intelijen Pusat Amerika (CIA), suatu intrik untuk melakukan pembunuhan gelap atas diri Zhou Enlai telah dimulai dan pelaksanaan konkretnya dilakukan oleh Mao Renfeng, Direktur Biro Intelijen Kuomintang Taiwan. 11 April 1955, pesawat terbang India "Princess Kashmir" yang dicarter oleh delegasi pemerintah Tiongkok untuk menghadiri Konferensi Asia Afrika meledak dalam penerbangan dari Hong Kong ke Jakarta, 15 orang tewas, di antaranya 8 anggota delegasi Tiongkok dan wartawan. Persitiwa tragis itu mengejutkan seluruh dunia. Dengan dikomando oleh Menteri Keamanan Umum Tiongkok, Luo Ruiqing, Zhou Enlai, Chen Yi dan rombongan dengan menumpang pesawat terbang India yang lain terbang ke Jakarta via Yangoon dari Kunming untuk menghadiri konferensi tepat pada waktunya.

18 April 1955, Konferensi Bandung dibuka dalam pidato terknelal mantan Presiden Indonesia, Soekarno yang diberi judul: Lahirlah Asia baru dan Afrika baru. Akan tetapi, di luar dugaan, wakil Irak yang berpidato pada urutan terakhir hari pertama secara terbuka menentang "komunisme" dengan membelakangi maksud awal konferensi. Pagi keesokan harinya, wakil Pakistan dan Filipina dalam pidatonya sekali lagi melontarkan serangan terhadap komunisme.

Jam 04:45 sore, setelah wakil Suriah, Thailand dan Turki berpidato, Zhou Enlai dengan langkah yang pelan naik ke podium. Dengan nada yang tenang dan percaya diri ia mengatakan, "delegasi Tiongkok datang untuk mencari persatuan, bukan untuk bertengkar", "delegasi Tiongkok datang untuk mencari persamaan, bukan mengungkit perbedaan". Pidato PM Zhou Enlai yang ringkas dan meyakinkan sepanjang 18 menit itu memperoleh sambutan tepuk tangan gemuruh dan membawa klimaks yang pertama bagi Konferensi Bandung, langsung mengoreksi arah konferensi dan telah mempersempit jarak antara dunia dan Tiongkok Baru. "Mencari persamaan sambil membiarkan adanya perbedaan" telah menjadi kata tema Konferensi Bandung dan terminologi yang diakui masyarakat internasional.

20 April 1955, konferensi dipindahkan ke Gedung Merah Putih dan berlangsung secara tertutup. Ketika pertemuan akan berakhir pada tanggal 21 April, terjadi perjuangan sengit antara dua front yakni pihak pro Barat dan pihak netral, dan konferensi kembali menghadapi jalan buntu. Dalam artian tertentu, Zhou Enlai sebagai pemimpin Partai Komunis Tiongkok pada kenyataannya adalah tema perjuangan tersebut. Zhou Enlai dalam pidato sepanjang satu setengah jam sekali lagi menekankan prinsip hidup berdampingan secara damai, dan mengemukakan rancangan resolusi delegasi Tiongkok dengan menjeneralisasi butir-butir persamaan pidato para wakil berbagai negeri selama beberapa hari yang dapat diterima semua pihak menjadi prinsip 7 pasal, dengan demikian telah melicinkan jalan bagi konferensi untuk pada akhirnya mencapai kesepakatan. Kemudian, konferensi telah menyusun dan meluluskan "dasa sila" yang mencakup semua isi lima prinsip hidup berdampingan secara damai, dan dituangkan dalam Komunike Bersama Konferensi Asia Afrika dan menjadi isi pokok Deklarasi Untuk Mendorong Perdamaian dan Kerja Sama Dunia.

Konferensi Bandung telah membuka pintu bagi Tiongkok menuju dunia, sementara itu juga telah membuka pintu bagi dunia untuk masuk ke Tiongkok sehingga dunia dapat mendengar suara yang paling kompeten dari Tiongkok.