Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2006-05-03 14:11:37    
Masalah Nuklir Iran Tetap Berpengharapan Diselesaikan Dengan Cara Perundingan

cri

Pertemuan Paris yang dihadiri oleh wakil dari enam negara Tiongkok, Amerika Serikat (AS), Inggris, Perancis, Rusia dan Jerman berakhir kemarin malam. Pertemuan gagal mencapai persetujuan mengenai isu nuklir Iran. Menteri luar negeri ke-enam negara tersebut akan melanjutkan konsultasinya di New York pada tanggal 9 mendatang. Analis berpendapat, kini, masalah nuklilr Iran sangat pelik. Walaupun Iran bersikap keras, namun juga memanifestasikan keluwesannya, sehingga menyediakan ruang tertentu bagi penengahan diplomatik. Masalah nuklir Iran kini belum keluar dari orbit penyelesaian melalui pendekatan diplomatik dan perundingan.

Dalam pertemuan kemarin, AS mendesak negara lainnya untuk mendukung Dewan Keamanan PBB menerima baik sebuah resolusi yang mempunyai daya pengekang untuk memaksa Iran membekukan kegiatan pengayaan uranium dari segi hukum. AS membicarakan hal itu berdasarkan penetapan bab 7 " Piagam PBB ", yaitu ketika perdamaian internasional mengalami ancaman atau terjadinya ulah agresi, Dewan Keamanan boleh mengambil langkah paksaan, di antaranya termasuk dengan cara militer, agar keinginan masyarakat internasional dapat terlaksana. Wakil AS Nicholas Burns seusai pertemuan menyatakan, pertemuan gagal mencapai persetujuan mengenai isu nuklir Iran, berbagai negara akan mengadakan pertemuan lagi di New York untuk meneruskan konsultasi mengenai soal itu. Sebelumnya, Wakil Tiongkok, Asisten Menteri Luar Negeri Cui Tiankai mengatakan kepada wartawan, pertemuan itu terutama bermaksud membiarkan wakil berbagai negara bertukar pendapat sepenuhnya mengenai isu nuklir Iran. Tiongkok berpendirian untuk menyelesaikan secara layak masalah tersebut melalui pendekatan diplomatik dan perundingan. Walaupun Perancis, Inggris dan Jerman kini menyetujui Dewan Keamanan menerima sebuah resolusi yang lebih keras mengenai isu nuklir Iran, namun mereka menegaskan pula bahwa isu itu hendaknya diselesaikan terutama melalui pendekatan diplomatik dan perundingan.

Baru-baru ini, pihak Iran mengeluarkan informasi yang bersikap " keras " dan " lunak ". Menteri Luar Negeri Iran, Manouchehr Mottaki Senin lalu menegaskan kembali bahwa Iran tidak akan menghentikan lagi kegiatan pengayaan uraniumnya. Wakil Presiden Iran selaku Ketua Organisasi Tenaga Atom Nasional, Gholam Reza Aghazadeh kemarin mengumumkan, Iran berhasil mengekstrak uranium diperkaya yang kemurniannya mencapai 4,8% di atas dasar 3,6%. Sementara itu, Wakil Ketua Organisasi Tenaga Atom Nasional Iran, Mohammad Saeedi mengungkapkan sebuah konsep " kerja sama semaksimal ", yaitu Iran akan menerima kembali pemeriksaan mendadak terhadap instalasi nuklirnya apabila isu nuklir dikembalikan dan diselesaikan dalam kerangka Badan Tenaga Atom Internasional ( IAEA ). Perunding pertama Iran, Ali Larijani dalam wawancaranya dengan media AS hari Senin mengatakan pula, Iran berharap menemukan sebuah " konsep baru " guna menyelesaikan masalah nuklir Iran.

Analis berpendapat, masalah nuklir Iran kini sangat pelik. Walaupun Iran bersikap keras, tetapi juga menunjukkan sikap luwes, sehingga menyediakan ruang tertentu bagi penengahan diplomatik.

Bagi AS, situasi Irak sekarang sudah memungkinkan AS terjerumus dalam kubang lumpur, maka tidak berdaya untuk melancarkan perang yang tidak meyakinkan. Di sisi lain, kemurnian uranium yang diekstrak Iran relatif rendah sehingga tidak dapat dimanfaatkan untuk membuat senjata nuklir, maka masalah nuklir Iran masih sempat diselesaikan melalui pendekatan diplomatik. Justru karena itulah, setelah laporan Mohammed el-Baradei diumumkan, Presiden AS George W. Bush tetap menyatakan bahwa pendekatan diplomatik tetap merupakan pilihan pertama. Juru bicara Departemen Luar Negeri AS, Sean McCormack kemarin juga menyatakan bahwa AS tetap bersikap menyelesaikan masalah nuklir Iran melalui pendekatan diplomatik, dan solusi militer kini belum dicantumkan dalam agenda.