Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2008-08-19 19:03:18    
Seni Melengkapi Semangat Olimpiade

cri

Seorang anak etnis Tibet tersenyum sambil memeluk boneka Yingying, salah satu maskot Olimpiade Beijing yang mengambil inspirasi dari antelope Tibet yang hampir punah. Tatapan anak itu begitu magnetis, meskipun ia hanyalah sebuah lukisan karya pelukis Tiongkok Zhao Xi Wei dalam Pameran Seni Olimpiade Beijing yang digelar dari tanggal 11 sampai 19 Agustus 2008.

"Seni melengkapi semangat Olimpiade." Slogan Olympic Fine Arts atau Pameran Seni Olimpiade ini tercermin dari 800 karya seni yang mengekspresikan Olimpiade dengan bahasa seni yang tak terbatas. Pameran karya seni dari 80 negara ini dibuka oleh Presiden Komite Olimpiade Internasional Jacques Rogge, Presiden Kehormatan Komite Olimpiade Internasional Juan Antonio Samaranch dan Li Changchun, anggota Politbiro Komite Tetap Partai Komunis Tiongkok.

Salah satu karya yang dipilih dalam pameran ini adalah karya pelukis Indonesia Tiarma Sirait yang berjudul "Won't Ever Be."

"Saya cukup bangga (dipilih dalam pameran ini) karena saya sebetulnya independent artist. Saya nggak berada di bawah galeri atau kurator siapapun juga. Berarti kan pemilihan ini murni dari panitia di Beijing," kata Tiarma Sirait menanggapi terpilihnya lukisan cat minyaknya dalam pameran Olympic Fine Arts ini.

Lukisan Tiarma Sirait yang berjudul "Won't Ever Be" ini dibuatnya khusus untuk dipamerkan selama Olimpiade Beijing 2008. Lukisan ini menggambarkan dirinya sendiri sedang berenang seperti seorang atlet dengan pakaian merah muda kemerah-merahan, warna favoritnya. "Saya mempertanyakan lagi tentang cita-cita orang kebanyakan dan bagaimana mereka mencapainya," kata Tiarma Sirait menjelaskan konsep lukisannya. Ia mengatakan bahwa ada orang yang cita-citanya hanya bersantai saja. Tentu saja hal ini sah-sah saja, kata Tiarma. Tetapi setiap tujuan yang tinggi dicapai dengan usaha ekstra keras, tandasnya.

Usaha ekstra keras ini ditunjukkannya dari perjalanan hidupnya sebagai perupa sejak lahir di tahun 1968 di kota Bandung, Indonesia. Setelah lulus jurusan seni dan desain ITB, ia melanjutkan studi ke Australia dengan jurusan desain pakaian. Setelah itu ia masih mengejar gelar master dalam bidang desain pakaian di Swedia.

Perjalanan hidupnya di dunia seni pernah membawa Tiarma Sirait mengunjungi Tiongkok di tahun 1994. Pada saat itu ia bergulat di bidang kerajinan tangan sehingga datang untuk mengunjungi sebuah konfrensi seni kerajinan tangan di Tiongkok. Ia sempat mengunjungi pusat-pusat kerajinan tangan di Xi'an, Beijing, dan Guangzhou.

Pada masa itu, Tiongkok amat berbeda dengan Tiongkok yang ia saksikan sekarang. "Waktu itu masih banyak orang yang memakai baju abu-abu, naik sepeda, dan gedung-gedungnya suram. Mobil juga ada, tapi hanya sedikit dan jelek-jelek. Orang-orangnya masih suka teriak-teriak sampai saya kira mereka sedang marah-marah," kenang Tiarma. Empat belas tahun kemudian, di tahun 2008, Beijing telah berubah total. "Jepang juga kalah, deh," kata Tiarma mengomentari wajah kota Beijing sekarang. Masyarakat Tiongkok pun menurutnya menjadi lebih ramah dan selalu berusaha mengulurkan tangan mereka.

Kini, sebagai tuan rumah Olimpiade, Beijing mengundang para seniman untuk bercerita tentang olimpiade dengan cara mereka sendiri. Dari Fuwa goresan kaligrafi Tiongkok, kulit apel berornamen naga, sampai Mona Lisa, masing-masing menyimpan jiwa seni Olimpiade yang beraneka rupa.

Seorang reporter Record TV Network Brazil Carla Cecato yang sedang meliput Olympic Fine Arts ini mengatakan bahwa lukisan Mona Lisa adalah favoritnya. "Mona Lisa ini menurut saya amat menarik. Ia adalah ikon dunia sehingga semua orang mengenalinya. Tapi di sini ia mengenakan baju tradisional Tiongkok dan membawa Obor Olimpiade."