

Pertemuan pemimpin ke-11 BRICS digelar di Brasilia, Brasil pada hari Kamis kemarin (14/11). Pertemuan dipimpin oleh Presiden Brasil Jair Bolsonaro dan dihadiri Presiden Tiongkok Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin, Perdana Menteri India Narendra Modi dan Presiden Afrika Selatan Matamela Cyril Ramaphosa. Para pemimpin dari lima negara BRICS telah bertukar pendapat secara mendalam dan mencapai kesepahaman yang luas mengenai kerja sama dan masalah-masalah penting yang menjadi perhatian bersama.
Xi Jinping menyampaikan pidato yang berjudul: Bergandengan Tangan dan Mengukir Bersama Lembaran Kerja Sama Yang Baru. Xi Jinping menegaskan negara-negara BRICS hendaknya secara berani menganjurkan dan mempraktekkan multilateralisme, dan berusaha membina iklim keamanan yang damai dan stabil. Memanfaatkan peluang reformasi dan inovasi yang historis, mendorong kemitraan revolusi industri baru antar negara-negara BRICS, saling belajar, dan terus meningkatkan hubungan antar masyarakat. Tiongkok akan berpegang teguh pada keterbukaan, menggenjot inisiatif Sabuk dan Jalan, dan berupaya membentuk komunitas senasib sepenanggungan kawasan Asia Pasifik dan umat manusia.
Untuk itu, Presiden Xi Jinping mengajukan tiga butir usulan. Pertama, membina iklim keamanan yang damai dan stabil. Kedua, mengusahakan prospek perkembangan yang terbuka dan inovatif. Ketiga, mengintensifkan pertukaran kebudayaan dan hubungan antar masyarakat yang saling belajar dan bercermin.
Xi Jinping dalam pidatonya di depan pertemuan tertutup kemarin mengatakan, kerja sama antar negara-negara BRICS sesuai dengan arus perkembangan sosial umat manusia serta perubahan konfigurasi internasional. Kerja sama itu tampaknya adalah kebetulan, pada hal adalah hasil yang wajar dan historis. Perkembangan negara-negara BRICS telah memicu restrukturisasi konfigurasi internasional baik secara horizontal maupun vertikal, dan tengah secara fundamental mengubah peta politik dan ekonomi dunia. Di era globalisasi saat ini, seharusnya tidak terjadi konflik di mana sebagian orang melawan sebagian orang lain, melainkan seluruh masyarakat menyejahterakan semua orang. Multilateralisme harus dikembangkan. Urusan internasional seharusnya ditangani dan diselesaikan secara musyawarah, tidak boleh didominasi oleh satu atau segelintir negara. Tiongkok mendukung reformasi seperlunya pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), mempertahankan prinsip pokok WTO, termasuk “special and differential treatment” yang seharusnya dinikmati negara-negara berkembang.
Para pemimpin lima negara BRICS menyetujui meningkatkan mekanisme kerja sama BRICS untuk mewujudkan perkembangan dan kemakmuran bersama.
Seusai pertemuan diumumkan Deklarasi Brasilia Pertemuan ke-11 BRICS.