
Selama beberapa hari ini, selalu ada satu topik hangat di sosmed Tiongkok, yaitu “dingin”. Meskipun sudah ada ramalan cuaca sebelumnya dan cukup persiapan, tapi warga Tiongkok yang sudah mengalami musim dingin yang tidak terlalu dingin dalam beberapa tahun sebelumnya tetap hampir nangis kedinginan begitu jalan ke luar. Ambil contoh Kota Beijing, pada jam 6 pagi tanggal 7 bulan ini, suhu Beijing turun sampai -19.5℃, menjadi pagi terdingin sejak tahun 1966. Di seluruh negeri Tiongkok, “hampir 90 persen daerah dinginnya seperti di dalam kulkas”. Namun, warga Tiongkok tidak mau mengalah, semakin dingin cuacanya, semakin ingin menghangatkan kamu.

Rasa Humor dan Optimistis
Karakter optimistis orang Indonesia sangat patut dipuji. Anak-anak yang berenang dan bermain di dalam banjir musim hujan; wanita yang memcuci baju seperti biasa selama masa aktif vulkanik; satpam yang tertawa lebar dan mengatakan “Wow langsung terang kan?”ketika melihat langit-langit kamarnya jatuh...Kemudian, saya menemukan orang Tiongkok yang serius juga sama humor dan optimistis. Misalnya dalam arus dingin kali ini. Ada warga kota Beijing dengan suka-ria pergi ke tempat luar yang dingin untuk mengadakan ujicoba “air panas yang diciprat langsung menjadi beku”yang dulu hanya terjadi di Tiongkok Timurlaut dengan suhunya di bawah -20℃; Ada orang yang “berterima kasih atas angin kencang yang mengantarkannya pulang rumah”; Ada yang mengatakan “ingin mencari kehangatan ke Kutup Utara”; Ada yang bilang “seandainya dilamar, dirinya juga tidak mau mengulurkan tangan”; Ada yang “hanya mengirim 2 pesan suara 5 detik saja, tangannya sudah mati rasa”... Seperti kalimat di dalam buku Penulis Inggris Gilbert Keith Chesterton, “Malaikat bisa terbang karena badannya bisa menjadi ringan”. Di hadapan kesulitan, rasa humor dapat memberi kekuatan besar kepada kita untuk mengalahkan ketakutan, menyebarkan kebahagiaan dan membina rasa optimistis.



Cinta dan Dedikasi pada Pekerjaan
Angin kencang selalu disertai arus dingin sehingga temperatur terasa lebih dingin daripada suhu riil. Banyak orang keluar rumah harus memberanikan diri, namun banyak orang yang harus tetap di pos pekerjaannya, antara lain polisi, kurir dan tukang sapu jalan. Dedikasi mereka pada pekerjaannya menjamin ketertiban kehidupan kita. Suhu pagi di Kota Harbin, Provinsi Heilongjiang mencapai -30℃, ikan hidup akan langsung mati kedinginan dalam 5 menit jika dikeluarkan. Penjaja ikan menyalakan api di bawah kolam ikan untuk menjamin penyuplaian ikan hidup; Suhu di Keresidenan Otonom Etnis Tibet Yushu Provinsi Qinghai yang tingginya 4000 meter di atas permukaan laut -20℃. Enam ekor rusa bibir putih jatuh di sungai yang membeku akibat dikejar srigala. Beberapa orang staf perlindungan ekologi berupaya menyelamatkan rusa-rusa itu tanpa peduli betapa dengannya air sungai; hari-hari ini, di Kota Shijiazhuang muncul puluhan kasus Covid-19, pemerintah kota itu memutuskan untuk melakukan tes asam nukleat kepada semua 11 juta warga kota dalam waktu 3 hari. Ribuan tenaga medis bekerja siang-malam dalam cuaca dingin. Pada pukul 3 pagi tanggal 6 bulan ini, tenaga medis memasuki kompleks perumahan Huaidi, suhu di luar tercatat -12℃. Para pekerja medis sibuk bekerja tanpa istirahat. Katanya, virus Corona tidak takut dingin, akan tetapi, yang lebih gigih adalah tenaga medis yang ulet dan terus menjaga pos kerjanya.


Generasi Muda yang Luar Biasa
Selama penanggulangan wabah tahun lalu, generasi muda Tiongkok memperlihatkan semangat responsibilitas mereka yang tak kenal lelah dan susah. Di dalam arus dingin kali ini, generasi muda juga tidak mengalah. Menghadapi wabah Covid-19, 110 orang relawan mahasiswa ilmu kedokteran segera menanggapi seruan, membantu pekerjaan pencegahan wabah di masyarakat tanpa menghiraukan cuaca ekstem dingin; setiap hari 17 relawan mahasiswa Dalian Ocean University bangun pada jam 5.30 untuk mengantarkan makanan kepada 5109 orang dosen dan mahasiswa yang dikarantina. Mulai dari tanggal 6, di Kota Dalian mulai turun salju besar. Sebuah foto di sosmed mencatat mereka dengan jerih payah mendorong troli di dalam salju putih; di Kota Pujiang Provinsi Zhejiang, Li Shaosong, seorang kurir yang berusia 23 tahun melihat seorang lansia cacat susah menyeberangi jalan dalam angin gencang. Ia segera menggendong orang lansia itu.


Penulis Prancis Simone de Beauvoir dalam karyanya menulis, “saya pulang di rumah dan duduk di depan meja tulisku: saya pasti sulit merasa kesenangan berkeliaran tadi jikalau tak ada pekerjaan di sini”. Sama halnya, tanpa kedinginan, masa tahu kehangatan. Tanpa kegelapan tidak dapat mengerti berharganya cahaya. Suhu rendah dan arus dingin akan berlalu beberapa hari kemudian, mungkin akan kembali pada waktu kapan saja. Kesulitan selalu berubah wajahnya, kadang-kadang bencana alam, kadang-kadang epidemi. Akan tetapi, di masyarakat kita selalu terdapat cayaha hangat yang akan semakin terang dalam keadaan semakin sulit, dan patut dijaga kita bersama.
