
Pada subuh hari tanggal 14 Januari 2021 waktu setempat, Profesor Gang Chen MIT merangkap Akademisi National Academy of Engineering AS ditangkap di rumahnya di Cambridge, Massachusetts.
Kasus penangkapan Gang Chen segera menimbulkan respons ramai di kalangan ilmuwan Tiongkok dan AS. Dalam beberapa pekan kemudian, kalangan akademis Tiongkok dan AS melancarkan solidaritas yang langka kepada Profesor Gang Chen dari MIT.
Sebagai informasi, penyelidikan AS terhadap para ilmuwan yang bekerja di lembaga pemerintah jauh sebelumnya sudah dilakukan. Jauh pada 2015, Departemen Kehakiman AS melancarkan penyelidikan mata-mata terhadap sejumlah sarjana keturunan Tiongkok, namun akhirnya semua tuduhannya tidak terbukti. Akan tetapi, tokoh-tokoh yang terlibat dalam kasus itu sudah barang tentu mengalami trauma secara psikis dan kehidupannya pun hancur.
Dalam waktu tiga tahun yang lalu, pemerintah AS bertindakan semakin ekstrem dan ratusan ilmuwan dilibatkan dalam penyelidikan, dan puluhan di antaranya ditahan dengan tuduhan pidana. Kasus-kasus itu diberikan nama yang sama yakni China Initiative.
Pada November 2018, Departemen Kehakiman AS melancarkan China Initiative dengan alasan mengantisipasi ancaman keamanan dan teknologi luar negeri. Akan tetapi, menurut hasil survei dan wawancara The Paper, mayoritas sasaran investigasi diberhentikan dari jabatan dan digugat dengan tuduhan pidana yang serius hanya karena kekeliruan teks atau tingkah tidak pantas yang ringan.
Ahli hukum AS menunjukkan, operasi investigasi yustisi yang dilancarkan dengan referensi nama negara tertentu adalah sangat langka dalam sejarah AS. Sejak itulah, semakin banyak mahasiswa warga negara Tiongkok, sarjana dan ilmuwan keturunan Tionghoa diberikan perlakuan yang tidak adil karena diinvestigasi hanya karena etnis dan kewarganegaraan ataupun berhubungan dengan Tiongkok. Hal ini sudah menimbulkan “chilling efect” di kalangan masyarakat Tionghoa di AS.
Apa yang diperhatikan masyarakat ialah jika pemerintah AS terus secara besar-besaran “memangsa” sarjana Tionghoa, maka apa akibatnya pada masa depan?
Pada awal 2021, pada saat pergantian pemerintahan AS, semakin banyak tokoh yang berpandangan jauh di AS mengimbau pemerintah Joe Biden merevisi China Initiative. Pada awal Februari lalu, ratusan tokoh kalangan politik dan akademis AS menerbitkan surat terbuka yang meminta Kongres selekasnya menggelar rapat dengar pendapat terkait investigasi yang dilakukan Departemen Kehakiman terhadap para ilmuwan Tionghoa. Mereka mengimbau diakhiri rencana tersebut.
Dalam dua tahun terakhir, daftar nama para sarjana Tionghoa yang tertangkap di bawah China Initiative masih terus bertambah. Penangkapan Profesor Gang Chen yang tersohor baik di AS maupun di Tiongkok terlebih menimbulkan kegemparan.
Gang Chen ditahan pada Januari 2021. Setelah itu, banyak sarjana, antara lain, Rao Yi dari Universitas Kedokteran Ibukota Tiongkok, Leo Rafael Reif dari MIT serta 200-an profesor MIT dan Rektor Universitas Stanford, Marc Tessier Lavigne berturut-turut angkat bicara dan menyatakan solidaritas kepada Profesor Gang Chen.
Dalam surat terbuka yang diterbitkan 200 rekan Gang Chen di MIT dinyatakan bahwa gugatan jaksa “memfitnah kegiatan akademis dan penelitian yang paling normal. Kebanyakan tuduhan atas diri Gang Chen sama dengan tuduhan terhadap semua profesor MIT.”
Gang Chen yang berusia 56 tahu dilahirkan di Xiangyang, Provinsi Hubei, tamat dari Universitas Iptek Huazhong, kemudian belajar ke AS, gurunya adalah ilmuwan Tionghoa Tian Changlin, yang terkenal di bidang teknik permesinan dan nanoteknologi. Gang Chen bekerja selama 20 tahun di MIT, adalah ilmuwan Tionghoa yang pertama yang memperoleh gelar akademisi National Academy of Engineering AS.
Banyak gejala menunjukkan, pemeriksaan kepada Gang Chen telah berlangsung selama satu tahun lebih. Pada Januari 2020 lalu, Gang Chen ditahan di Bandara Boston setelah kembali dari Tiongkok, ponsel dan komputernya disita selama 60 hari. Karena dia menolak mengeluarkan kode rahasia, perlengkapan tak bisa dibuka, maka peristiwa ini terburu-buru diselesaikan. Tapi pemeriksaan kepada Chen Gang jauh belum berakhir.
Setelah ditahan 6 jam lamanya pada Januari 2020, Gang Chen diberikan jaminan. Dalam surat gugatan yang diumumkan pada hari kelima yakni tanggal 19 Januari, nama kejahatan dituduh kepada Gang Chen jauh berbeda dengan yang diumumkan jaksa melalui TV, tak ada lagi nama kejahatan penerimaan uang sebanyak 29 juta dolar AS, sengaja menipu biaya penelitian AS, mempromosi tenaga ahli kepada Tiongkok, membantu pembangunan iptek Tiongkok. Di atas surat gugatan ada dua kejahatan, tidak mengungkapkan hubungan dengan Tiongkok ketika memohon biaya dari Departemen Energi AS dan menyerahkan laporan tahunan, termasuk identitasnya sebagai penasihat dan anggota juri yang dipegangnya di Tiongkok; tidak melaporkan kepada biro pajak nasional AS setelah mempunyai beberapa akun Bank Of China.
Banyak tokoh dari Kalangan sains AS merasa terkejut ketika Gang Chen ditangkap. Teman lama Gang Chen, profesor Universitas North West AS G Jefferey Snyder mengatakan kepada The Paper, isu ini adalah sebagian pemukulan ilmuwan yang bekerja sama dengan Tiongkok. Hakikat penelitian sains adalah kerja sama. Ini akan membuat ilmuwan AS menanyakan apakah perlu bekerja sama dengan rekan Tiongkok. Dilihat dari segi jangka panjang, ini akan merusak kepentingan AS.
Dalam surat permohonan bernama Kami Semua Gang Chen kepada Kongres AS, Snyder menunjukkan, Departemen Kehakiman menuduh Gang Chen yang menulis surat promosi demi siswanya dan berdinas di Komite Konsultasi Sains Tiongkok sebagai bersekongkol dengan kekuatan ekstern dan mencoba mencuri teknologi AS, ini sama sekali memfitnah pertukaran sains dan penelitian yang normal. Dia mendesak pejabat AS menghentikan persekusi terhadap ilmuwan. Hingga saat ini, surat petisinya telah ditandatangani sebanyak 1200 orang.
Profesor Chris Dames dari Universitas California berkontak dengan 70 rekan dan teman Gang Chen, bersama menandatangani satu lagi surat petisi yang berjudul Membela Gang Chen, Membela Kebebasan Akademik. Surat petisi ini menunjukkan, pekerjaan penelitian yang diadakan Gang Chen sama sekali tidak berhubungan dengan keamanan dan mata-mata ekonomi, gugatan pemerintah AS kepada Gang Chen membahayakan kebebasan akademik.
Dames menunjukkan, titik berat surat gugatan pihak kejaksaan berkonsentrasi pada lampiran pada profil Gang Chen yang memohon dana dari pemerintah AS pada tahun 2017. Gugatan ini mengatakan, Gang Chen sengaja mendistorsi pemerintah, tidak menulis semua hubungan akademik dengan Tiongkok, dan isi penelitiannya dalam waktu 4 tahun lalu.
Tapi yang tidak disebut dalam surat gugatan ialah dokumen permohonan menentukan kepanjangan riwayat tidak melebihi dua halaman, namun biodata Gang Chen di situs web MIT berkepanjangan 123 halaman, isinya mengandungi berbagai informasi termasuk karyanya.
Dames berpendapat, surat gugatan atas diri Gang Chen menimbulkan ketakutan para ilmuwan AS yakni bagaimana menyimpulkan isi sepanjang 123 halaman dalam dua halaman? Jika Departemen Kehakiman tidak puas bagi kami, apakah kami juga akan ditangkap?
Andrew Chongseh Kim, seorang sarjana tamu Institut Hukum Universitas Texas Selatan dan juga seorang pengacara yang selalu menangani kasus berkaitan perantau Tionghoa mengatakan kepada The Paper bahwa, kasus Gang Chen telah mengungkapkan sebuah masalah penting dalam “China Initiative”: Kementerian Kehakiman sedang semakin giat untuk mendakwa sejumlah orang yang tidak usah dituduh.
“Mereka sama sekali tidak berkaitan dengan tindakan pidana yang sebenarnya dicantumkan dalam ‘initiative’ tersebut seperti mata-mata ekonomi dan mencuri rahasia bisnis, dan kesalahan mereka hanya tidak mengisi beberapa dokumen dengan mantap, dan sebenarnya tidak perlu didakwa dengan pidana. Sementara perbuatan pemerintah lebih cenderung untuk mendakwa mereka dulu, kalau tidak menemukan masalah apa, akhirnya dihukum dengan alasan memalsukan presentasi dan penggelapan pajak. Hal tersebut semakin menjadi “Play Book” pemerintah, mereka tidak akan “meniru” menggeledahi mata-mata, malah langsung menargetkan para ilmuwan yang berhubungan dengan Tiongkok, dan bertujuan untuk membikin kecemasan.”
Apa sebenarnya “China Initiative”?
Gedung Putih dalam laporan Strategi Keamanan Nasional AS yang diluncurkan Desember tahun itu, dengan jelas mendefinisi Tiongkok sebagai “pesaing strategis” AS, dan menyebut Tiongkok telah mengancam keamanan dan kepentingan AS, menuduh Tiongkok melanggar HaKI AS. Ditekankan dalam laporan tersebut bahwa pihaknya “akan mempertimbangkan pembatasan terhadap mahasiswa luar negeri jurusan ilmu pengetahuan, teknologi, matematika dan rekayasa asal negara tertentu”, “demi mengurangi tindakan pencurian ekonomi dari kaum non intelijen”.
Berdasarkan strategi keamanan nasional baru, pemerintah Trump mulai merencanakan penggunaan berbagai cara dan alat untuk membatasi dan menghalangi transfer teknologi canggih ke luar negeri. Beberapa pejabat tinggi pemerintah kerap kali secara terbuka menuduh para ilmuwan keturunan Tionghoa, sarjana dan mahasiswa Tiongkok yang sedang bekerja dan belajar di universitas dan lembaga sains AS adalah mata-mata atau agennya, dan menyebut mereka selalu mentransfer informasi intelijen teknologi canggih dan bisnis melalui cara tradisional atau non tradisional, agar menghasut opini umum demi membatasi dan menindas para personil teknologi keturunan Tionghoa serta mahasiswa dan sarjana tamu asal Tiongkok.
Juni tahun 2018, berdasarkan tuntutan pemerintah Trump, Institut Kesehatan Nasional AS (NIH), Yayasan Sains Nasional dan sejumlah universitas dan lembaga sains mulai melaksanakan tuntutan pemerintah federasi yang semakin ketat, dan melaporkan sebuah pendanaan dan kerja sama internasional berkaitan dengan Tiongkok, dan menghidupkan penyelidikan bersama dengan FBI.
Padahal, penyelidikan terkait setidaknya dilancarkan satu tahun sebelumnya. Menurut laporan majalah Science, sebuah laporan penyelidikan yang diumumkan oleh Wakil Direktur INI Michael Lauer pada Juni tahun 2018 telah menunjukkan, totalnya terdapat 189 periset diselidik, di antaranya hanya 4% mempunyai masalah HaKI. Akan tetapi, di bawah tekanan penyelidikan besar, sejumlah 54 sarjana dipecat atau secara inisiatif meletakkan jabatannya, dan mayoritas di antaranya adalah sarjana keturunan Tionghoa, dan juga terdapat sarjana didakwa dan dihukum.
“China Initiative” dilahirkan di bawah latar belakang tersebut. 1 November tahun 2018, Menteri Kehakiman waktu itu Jeff Sessions mengumumkan penghidupan rencana tersebut. Menurut keterangan dari situs web Kementerian Kehakiman AS, misi rencana tersebut adalah penanganan “ancaman Tiongkok terhadap keamanan nasional AS”, dan menetapkan 10 target prioritas, antara lain: melakukan penggeledahan terhadap perusahaan Tiongkok dan personil yang dicurigakan melakukan pencurian rahasia bisnis dan aktivitas mata-mata ekonomi; menyusun taktik penegakan hukum terhadap pengumpul intelijen non tradisional (seperti periset di laboratorium, universitas dan basis pertahanan nasional); mengidentitaskan dan menggugat personil yang melakukan aktivitas pencurian rahasia bisnis, hacker dan mata-mata ekonomi; hendaknya menangani “ancaman” dari investasi Tiongkok di luar negeri; melawan aktivitas intelijen Tiongkok dan “kegiatan rahasia yang berniat untuk mempengaruhi masyarakat AS”.
Terhitung sampai akhir Maret 2021, dalam catatan kasus tipikal “berkaitan dengan Tiongkok” yang diterbitkan di situs web “China Initiative” Kementerian Kehakiman AS, telah diumumkan 79 catatan kasus. Setelah wartawan The Paper.cn menganalisa kasus-kasus tersebut, telah menemukan 11 catatan di antaranya berkaitan dengan profesor universitas, tapi tidak ada satu kasus bersangkutan dengan HaKI dan pencurian rahasia bisnis, tuduhan tersebut ialah menipu, salah menguraikan serta menyembunyikan pajak.
Yang patut diperhatikan, kasus-kasus tersebut adalah kasus terbuka setelah “diseleksi” oleh Kementerian kehakiman AS, kasus Gang Chen tidak tercantum dalam catatan tersebut. Berapa jumlah kasus dalam rencana aksi itu masih belum diketahui. Direktur FBI Christopher Wray pernah mengatakan pada Juli 2020, waktu itu pihaknya “tiap 10 jam melancarkan satu penyelidikan tentang kasus kontra-intelijen terkait Tiongkok. Dalam 5000 lebih kasus kontra-intelijen yang diurus FBI pada waktu itu terdapat separo kasus berkaitan dengan Tiongkok. ”
6 Februari 2020, menjelang satu tahun diresmikannya “China Initiative”, wadah pemikir AS “Pusat Penelitian Strategi dan Internasional” mengadakan seminar tentang rencana tersebut, dengan dihadiri Menteri Kehakiman, Kepala Pusat kontra-intelijen dan keamanan nasional, serta Direktur FBI. Mereka sama-sama menyampaikan pidato, bahkan dengan kata terus terang menguraikan tujuan hakiki Rencana Aksi Tiongkok itu.
Jaksa Massachusetts, Andrew Lelling, yang juga bertugas menggugat Profesor Gang Chen juga menghadiri seminar kali ini. “Ada orang mengklaim, penggugatan tersebut mungkin menimbulkan reaksi chilling effect pada kerjasama dengan Tiongkok. Sayangnya, reaksi itu adalah sangat diperlukan untuk mengantisipasi tantangan dari Tiongkok.” Di depan seminar itu, Lelling mengatakan , “Sekarang semuanya terbuka. Kalangan ilmuwan sudah tahu, pemerintah bersikap sungguh-sungguh di bidang itu.”
Profesor dari Universitas Seton Hall, Margaret K. Lewis baru-baru ini merilis artikel yang berjudul “Criminalizing China” berpendapat, “tujuan utama “China Initiative” tidak ditujukan pada perseorangan, melainkan ancaman umum.”
Sementara itu, dia menunjukkan, menamakan rencana penegakan hukum dengan nama negara, itu adalah tindakan yang berprasangka dan melanggar semangat kehakiman, inilah rencana aksi yang meng-kriminal-kan Tiongkok dan ilmuwan keturunan Tionghoa. Meskipun menghadapi kritikan dari kalangan ilmuwan, Kementerian Kehakiman AS menyatakan puas atas hasil pelaksanaan “China Initiative”.
12 November 2020, Menteri Kehakiman AS mengatakan, pihaknya mencapai kemajuan yang sulit diyakinkan di bidang menentang Tiongkok yang meningkatkan kemampuan ekonomi dan militernya dengan mengorbankan Amerika.
Banyak pakar dan sarjana AS menyatakan keprihatinan dirinya. Profesor Margaret K. Lewis menyatakan, ketika peraturan dan prosedur Universitas mengalami perubahan, badan pemerintah dengan alasan keamanan negara menetapkan sejumlah masalah administrasi sebagai kejahatan, tindakan itu akan memungkinkan pemerintah bisa melakukan penyelidikan dan penggugatan tanpa terbatas.
Ketika menerima wawancara wartawan Paper.cn, Margaret mengatakan dengan mengutip pandangannya dari artikelnya, “China Initiative” menghubungkan semua kasus dengan kunci Tiongkok, sehingga memungkinkan kasus apapun yang berkaitan dengan Tiongkok akan menghadapi penyelidikan pidana. Meskipun kasus tersebut tidak berkaitan dengan keamanan negara.
Dalam 30 tahun yang lalu, jumlah siswa dan sarjana Tiongkok yang menerima pendidikan di Amerika bertambah dengan laju cepat. Menurut statistik dari Institut Pendidikan Internasional AS, terhitung sampai tahun 2018, siswa Tiongkok yang belajar di Amerika sekitar 300 ribu orang, di antaranya terdapat banyak ahli riset yang mempunyai gelar doktor.
Akan tetapi dalam beberapa tahun yang lalu, di bawah tekanan Rencana itu, seluruh universitas dan sistem riset telah mengambil aksi pemeriksaan sendiri, tindakan tersebut mendatangkan dampak serius kepada kelompok sarjana orang Tionghoa serta sarjana asing yang bekerjasama dengan Tiongkok.
Banyak sarjana AS menyatakan, kekhawatiran pemerintah AS terhadap kegiatan mata-mata Tiongkok sedang berubah menjadi “Ketakutan warna merah” yang tidak rasional. Di bawah latar belakang ini, sarjana AS berangsur-angsur mengurangi kerjasama dengan rekan Tiongkok. Semakin banyak sarjana orang Tionghoa dan siswa Tiongkok kembali ke Tiongkok. “Ketakutan warna merah” di bawah bayangan McCarthyisme sedang kembali. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Wang Wenbin menyatakan pada Oktober tahun lalu, apa yang disebut “China Initiative”” sama sekali adalah manipulasi politik , hal ini membuktikan McCarthyisme sudah kembali bangkit di Amerika.
10 Maret lalu, daftar nama pencalonan Menteri Kehakiman AS sudah diluluskan oleh Senat AS. Opini memprakirakan, setelah Merrick Garland dilantik sebagai menteri kehakiman, kebijakan AS akan mengalami perubahan besar-besaran. Februari yang lalu, Jaksa Lelling pun meletakkan jabatan. Sejumlah ilmuwan dan organisasi AS menuntut Kongres dan pemerintah Biden memeriksa apakah ada ketidakadilan terhadap orang Tionghoa dan Asia dalam pemeriksaan “Rencana Aksi Tiongkok” .
Bagaimana hasil kasus-kasus tersebut setelah pemerintah AS mengalami pergantian? Bagaimana “China Initiative”” pada masa depan, hal ini akan terus diperhatikan rakyat di kedua tepi Pasifik.