Le Monde, Kamu Harus Minta Maaf

2021-04-05 11:37:46  

(Zheng Ruolin/www.guancha.cn)

Sebuah peristiwa sedang berlangsung antara media Tiongkok dan Prancis:

Beberapa hari yang lalu surat kabar terkenal Prancis, Le Monde memuat artikel, yang mencela siaran Bahasa Prancis dari China Global Television Network (CGTN) “menirukan” seorang jurnalis Prancis, dalam rangka “membela kebijakan Xinjiang Tiongkok”. Judul artikel tersebut cukup sensasi: “Saat CGNT Memalsukan Seorang Jurnalis Prancis......”, judul bawahannya adalah “Seseorang bernama Laurene Beaumond Paparkan Topik Seputar Orang Uighur dan Masalah Taiwan di Media Ofisial Tiongkok”.

Maksudnya, Beaumond berbicara dengan mematuhi tuntutan pemerintah Tiongkok, yaitu tidak pernah terjadi peristiwa genosida apa pun di Xinjiang. Namun yang lebih “hebat” lagi ialah, artikel tersebut bukan membahas apakah presentasi sang Beaumond sesuai dengan kenyataan, melainkan langsung mencurigakan keaslian identitas jurnalis tersebut, dan bertanya “apakah Laurene Beaumond adalah seorang yang sungguh-sungguh ada”.

Warta berita Prancis belakangan tahun ini telah dipantau sesuatu kecenderungan yaitu, faktualitas warta berita sudah tidak penting, yang penting adalah “Political Correctness atau PC”. Yang harus kami perhatikan adalah, yang dimaksud “PC” tersebut adalah PC Prancis, yang sesuai dengan kebutuhan politik Prancis dan arah opini mayoritas media Barat.

Mengenai masalah berkaitan dengan Tiongkok, inti sarinya “PC” berarti topik-topik apa saja seputar Tiongkok harus negatif, dan tidak menguntungkan bagi Tiongkok, dan opini apa saja yang dekat dengan pandangan Beijing akan langsung dicela sebagai kabar palsu yang dibuat oleh Beijing. Dalam artikel tersebut mengenai jurnalis Beaumond, Le Monde lebih-lebih menekankan jurnalis Prancis adalah gadungan, dan dibuat oleh Beijing. Andaikata identitas orangnya dipalsukan, jadi apa yang dikatakannya tentu saja tidak usah diyakini.

Buktinya Le Monde ialah, mereka telah menelusuri daftar nama jurnalis yang dipublikasikan oleh Asosiasi Jurnalis Prancis, dan mereka tidak mendapat nama Laurene Beaumond. Oleh karena itu Le Monde telah menarik kesimpulan bahwa orang ini tidak adalah riil.

Antoine Bondaz, apa yang disebut “sinolog” yang baru-baru ini menjadi terkenal karena dipanggil sebagai “petite frappe” (samseng kecil) oleh Kedubes Tiongkok untuk Prancis, juga segera bergerak dan tampil di depan publik. Dia mencuit tweetnya bahwa “Aneh loh, Tiongkok kerap kali menyinggung seorang jurnalis Prancis, yang menyebut tak pernah terjadi hal-hal yang dilaporkan media Barat. Namun jika dia benar-benar ada, karena dia telah menyinggung saya, saya siap menerima wawancara... sebenarnya kami tidak pernah mendapat bukti apa pun bahwa jurnalis tersebut benar-benar ada”.

Akan tetapi, kenyataan dan sejarah cepat memukul balik klaimnya.

Setelah diteliti oleh media Prancis, Laurene Beaumond adalah orang yang asli, dan benar-benar lulus dari jurusan jurnalisme di Prancis. Sementara itu pula surat kabar Le Figaro Prancis bahkan sudah melakukan wawancara dengan dia. Mengapa nama Laurene belum ditemukan dalam daftar nama jurnalis registrasi? Karena dia telah memakai nama samaran; mengapa dia menggunakan nama samaran? Karena Prancis akan memberi penindasan luar biasa di bidang politik, ekonomi dan lain-lain kepada jurnalis yang berani mengungkapkan hal-hal sesungguhnya, yang bertentangan dengan opini arus utama media Prancis.

Rektor Institut Hukum Universitas de Strasbourg, Profesor Christian Mestre telah menyampaikan pidatonya pada tahun 2019, di mana dia sempat memuji sejumlah kebijakan yang diambil pemerintah daerah Xinjiang, akhirnya mengundang tuduhannya bahwa dia mendukung pemerintah Tiongkok, dan terpaksa meletakkan jabatannya dalam tekanan luar biasa; seorang pengarang terkenal Prancis Maxime Vivas menerbitkan karyanya yang berjudul “Ouïghours, pour en finir avec les fake news” (Tamat Kabar Palsu Seputar Uighur) setelah dua kali berkunjung ke Xinjiang, kemudian dia pun juga mengalami serangan gila dari arus utama media Prancis, dan tidak mempunyai kesempatan untuk memberi tanggapan apa pun. Bahkan sudah ada orang yang mengancam dia bahwa mustahil bukunya akan diterbitkan lagi di Prancis.

Inilah sebabnya mengapa Beaumond terpaksa menggunakan nama samaran ketika berbicara hal-hal sesungguhnya. Padahal, jurnalis Beaumond dewasa ini juga mengalami tekanan yang besar. Meskipun saya tidak mengenal dia, tapi ada teman saya yang mengenal dia. Dia terus terang mengakui “ketakutan”, dan barangkali sudah kehilangan sejumlah peluang kerja...

Apa yang dibicarakan Laurene Beaumond? Sangat sederhana, hal-hal yang benar.

Wanita ini pernah tinggal di Tiongkok selama 7 tahun, dan juga pernah tinggal di Xinjiang karena dia menikah dengan orang lokal Urumqi, Xinjiang. Maka dia sangat mengenal keadaan Xinjiang. Ketika diwawancarai Harian Figaro, ia dengan berani menyatakan, dirinya bertanggung jawab atas artikel yang dikirimnya kepada stasiun TV Tiongkok pada tanggal 24 Maret lalu. Beberapa hari kemudian, pihak Tiongkok merilis artikelnya setelah mengonfirmasikan isi artikel. Dia bertanggung jawab atas isi artikelnya. Singkat kata, Xinjiang tidak terjadi genosida apapun.

Wartawan yang berani ini patut diacungi jempol dan dipuji “Bravo”!  Anda adalah wartawan Perancis yang paling berani karena telah menuturkan keadaan aslinya di Xinjiang.

图片默认标题_fororder_sh1

Antonie Bondaz

Saat ini, fakta sudah di atas meja. Pertanyaan yang diajukan Harian Le Monde dan “sinolog” Antonie Bondaz, apakah memang adanya  wartawan Perancis ini sudah terjawab, ya, benar-benar ada! Artikel yang berkonten tidak pernah terjadi genosida ras di Xinjiang memang benar-benar ditulisnya setelah melakukan survei secara serius di lapangan. Jadi, kini giliran Harian Le Monde dan Bondaz untuk memberikan responsnya.

Saya melihat, Harian Le Monde diam-diam menjadikan artikelnya sebagai artikel berbayar, yang tak dapat dibaca secara gratis.

Observer Network mencatat, setelah artikel itu dijadikan Harian Le Monde sebagai artikel berbayar, bagian yang terbaca tetap menyebut tidak ada sosok jurnalis bernama Laurene Beaumond.

图片默认标题_fororder_sh2

Bondaz juga diam-diam menghapus atau menutup isi Twitternya terutama komentar dan retweet yang meragukan kebenaran isi Twitternya. Tetapi mereka masih bungkam terhadap kebohongan dan rekannya, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Sudah melukai Tiongkok, namun tinggal diam aja. Hal ini mutlak tidak bisa diterima.

Harian Le Monde, kalian harus meminta maaf secara serius. Karena perkataan kalian telah melukai mendalam para pembaca, melukai wartawan Beaumond, melukai CGTN yang tidak berdosa, melukai persahabatan Perancis-Tiongkok. Kalian harus menjelaskan kesalahan yang dibuat kalian, memberikan penjelasan atas kabar palsu kalian yang menuduh “pemerintah Tiongkok membuat kabar palsu wartawan Perancis”, meminta maaf kepada pembaca, Beuamond dan CGTN. Apakah kalian akan minta maaf, ini akan membuktikan sikap kalian terhadap kabar palsu. Kami akan terus mencatat peristiwa ini sampai kalian meminta maaf.

图片默认标题_fororder_sh3

Selain itu, kami berhak mengharapkan bahkan menuntut pihak terkait Perancis menjamin keamanan dan kepentingan terkait wartawan Beaumond. Karena dia berbicara hal-hal asli, duduk perkara dan kebenaran, tapi sedang menghadapi tekanan sangat besar. Ini tidak bisa diterima. Pihak Perancis perlu merahasiakan identitas Beaumond dan memelihara keamanannya, ini semestinya dilakukan oleh satu negara demokratik, kami yakin pemerintah Perancis yang terpilih oleh rakyat dapat berbuat hal ini. Kami akan berdoa dan mohon restu kepada Beaumond.

Yang terakhir, baik harian Le Monde dan harian Figaro, maupun Bondaz semuanya menekankan wartawan Beaumond menulis artikel demi media nasional Tiongkok. Ya, betul, media Tiongkok adalah publik, bertujuan menghindarkan kapital swasta mengontrol media dan mengusahakan kepentingan individual. Perancis pun mempunyai banyak media termasuk stasiun kedua dan stasiun ketiga serta radio internasional. Kuncinya bukan media ini kepunyaan siapa, melainkan apakah media itu berbicara hal-hal yang benar bukan kebohongan. Pada hal apakah adanya wartawan Beaumond dan apakah dia benar-benar adalah wartawan Perancis, Le Monde dan Bondaz sudah berbohong, kata-kata disuarakan China Central Television sama sekali adalah benar. Justeru karena itu, kalian harus meminta maaf, dan inilah hal sederhana yang diakui umum.

 

王伟光