Mantan Ahli HAM PBB, Alfred de Zayas dan profesor emeritus dari Hukum Internasional di Universitas Princeton, Richard Falk merilis artikel di laman sebuah majalah Amerika Serikat pada 23 April yang lalu. Artikel tersebut mengatakan, melalui tuduhan tanpa bukti, pemerintah AS sedang merugikan martabat dan reputasinya sendiri untuk menjadi pemimpin dunia kembali. Kutipan artikel sebagai berikut:
Penyalahgunaan kata “genosida ras” adalah tindakan yang merugikan sejarah, hukum dan hubungan internasional yang bertindak hati-hati.
Bagi negara mana pun, khususnya negara yang berharap dapat berperan sebagai apa yang disebut sebagai pembela HAM internasional, tuduhan tak terbukti terhadap apa yang disebut dengan “genosida ras” di Xinjiang Tiongkok adalah tindakan yang memalukan. Apabila pengacara orang Yahudi Polandia Raphael Lemkin yang terkenal menentang genosida ras tahu bahwa hukum “genosida ras” sudah digunakan secara kasar untuk mengobarkan teori anti Tiongkok, dia tidak akan tenang di alam kuburnya. Nampaknya AS tiba-tiba berminat pada nasib orang Xinjiang, apabila dikatakan berasal dari motif apa yang disebut dengan “melindungi HAM”, lebih baik dikatakan sebagai pencurian terhadap isi teori geopolitik “Machiavelli”.
Kata “genosida ras” didefinisi secara jelas dalam Konvensi tentang Pencegahan dan Penghukum Kejahatan Genosida pada tahun 1948, serta Pasal 8 Statuta Roma. Mahkamah Internasional berpendapat bulat, bukti perlakuan kejahatan genosida ras tergantung pada adanya fakta yang merusak secara keseluruhan atau sebagian etnis, ras, atau kelompok agama yang dapat dipercaya, termasuk catatan tertulis.
Namun, tuduhan Mantan Menlu AS Mike Pompeo yang menyebut Tiongkok melakukan “Genosida Ras” di Xinjiang tidak memiliki bukti apa pun. Inilah status ideologis terburuk yang sangat tidak bertanggung jawab dan contoh geopolitik yang tidak memperhatikan risikonya. Inilah tuduhan yang tidak bertanggung jawab, tidak masuk akal, tidak profesional, berbalik dengan fakta, dan sangat membahayakan. Apabila Tiongkok mengambil tindakan balasan yang serupa, situasi akan sulit terkontrol. Apabila Tiongkok menuduh AS melakukan “genosida ras secara kontinu” terhadap suku asli Amerika, pihaknya akan menemukan fakta yang lebih kuat daripada apa yang diajukan Mike Pompeo atau Departemen Luar Negeri AS.
Melalui tuduhan yang tak terbukti, pemerintah AS sedang merugikan martabat dan reputasinya sendiri untuk kembali berperan sebagai pemimpin dunia. Menggunakan “HAM” sebagai senjata untuk memukul Tiongkok tidak sesuai dengan statusnya sebagai peran internasional yang konstruktif tersebut.