Legenda Tenis Meja “Ibu-ibu Shanghai”

2021-07-29 12:34:22  

Legenda Tenis Meja “Ibu-ibu Shanghai”

Tanggal 25 Juli lalu, dalam pertandingan tenis meja tunggal putri putaran kedua Olimpiade Tokyo, seorang ibu berwajah Asia masuk ke lapangan dengan tersenyum.

Ibu ini bernama Ni Xialian, berasal dari Shanghai, berumur 58 tahun, kali ini ia mengikuti pertandingan mewakili Luksemburg.

Sebenarnya, ibu yang terlihata biasa-biasa saja ini mempunyai legenda yang tidak diketahui oleh orang-orang. Pada 38 tahun yang lalu, di tempat yang sama, Tokyo, dia adalah seorang ratu yang tak tertandingi.

Legenda Tenis Meja “Ibu-ibu Shanghai”

Tahun 1983, dalam pertandingan Kejuaraan Tenis Meja Dunia ke-37 yang diselenggarakan di Tokyo, Ni Xialian yang saat itu berumur 20 tahun mengikuti tim Tiongkok dan merebut juara tim putri, dia juga meraih juara ganda campuran dengan mitranya Guo Yuhua. Salah satu atlet yang dikalahkannya saat itu adalah pelatih utama tim tenis meja putri Jepang Olimpiade kali ini, Mika Hoshino.

Ada orang yang penasaran, mengapa atlet yang begitu unggul sepertinya tidak mewakili tim Tiongkok dalam olimpiade? Ni Xialian menjawab sambil tersenyum, itu karena takdir.

Di Tiongkok, semakin banyak muda-mudi yang berbakat, generasi tua pun tereliminasi. Ada kalanya atlet pun harus pensiun. Seiring dengan bertumbuhnya generasi muda, Ni Xialian kehilangan posisi utamanya. Pada tahun 1986, Ni Xialian memutuskan untuk pensiun. Tahun 1988, tenis meja pertama kali dimasukkan dalam Olimpiade. Ni Xialian tidak memiliki kesempatan untuk mengikuti Olimpiade Seoul tahun 1988, hanya bisa menonton pertandingan temannya.

Legenda Tenis Meja “Ibu-ibu Shanghai”_fororder_dama5Legenda Tenis Meja “Ibu-ibu Shanghai”_fororder_dama

Akhir 1980-an, Ni Xialian meninggalkan Shanghai dan menuju ke Jerman. Waktu di negara asing, Ni Xialian tidak memiliki hiburan lain, hanya suka bermain tenis meja. Orang-orang Jerman terkejut, karena wanita Tiongkok yang memiliki tinggi badan 150 cm ini menang terus. Orang lain menjulukinya “Ratu Tenis Meja Timur”.

Tahun 1996, Biro Olahraga Luksemburg menelepon Ni Xialian dan menanyakan kesediannya mengikuti Olimpiade. Ni Xialian langsung menolaknya, karena dirinya sedang sibuk menikah dan merawat anak.

Tahun 1998, Biro Olahraga Luksemburg mencarinya kembali. Ni Xialian yang berumur 36 tahun untuk pertama kalinya mengikuti Olimpiade, dan masuk ke 16 besar tunggal putri.

Ni Xialian mengumumkan tidak akan mengikuti pertandingan lagi setelah dia pulang rumah. Tapi 8 tahun kemudian, dia menyesal, karena Olimpiade kali itu diselenggarakan di Beijing.

Dalam Olimpiade Beijing, Ni Xialian tidak bertindak seperti atlet yang memikul beban, lebih mirip seperti ibu-ibu Shanghai yang pulang kampung.

 

Ni Xialian tidak merebut medali dalam Olimpiade Beijing, tapi dia memuji persiapan yang dilakukan Beijing untuk olimpiade, tim Tiongkok sungguh hebat!

Seiring dengan umurnya yang makin tua, kekuatan fisiknya pun menurun, Ni Xialian tahu dia bukanlah lawan para pemuda. Tapi dia mengatakan, “meskipun umurku sudah tua, kalian tetap tidak akan bisa menang dengan mudah”.

Tahun 2015, Ni Xialian yang berumur 52 mengalahkan atlet terkenal Jepang Ai Fukuhara, para penonton terkejut.

Tahun 2017, Ni Xialian yang berumur 54 tahun bersaing dengan atlet utama Tiongkok Ding Ning, dan kedua pihak beberapa kali seri dalam pertandingan.

Menurut Ni Xialian, menang dan kalah sangat biasa, kegembiraan barulah makna riil kehidupan yang sebenarnya.

Waktu ditanya apakah akan mengikuti olimpiade selanjutnya, Ni Xialian tertawa dan berkata, tidak pernah berbicara tidak. Waktu ditanya apa yang membuatnya terus berusaha, Ni Xialian tidak tersenyum lagi dan berkata, karena Ni Xialian mewakili orang Tiongkok di Luksemburg.

赵颖