

Guo Dandan yang usianya 41 tahun, adalah juara dunia ski pertama asal Tiongkok. Pada usia 12 tahun, dia terpilih menjadi seorang atlet Ski Aerial Tiongkok. Putrinya Zhang Yangguangzi yang usianya baru 16 tahun, sudah berlatih main ski selama 15 tahun. Dia pertama kali datang ke area ski baru berusia 1 tahun lebih.
Ibu Guo Dandan masih ingat waktu dia pertama kali belajar main ski. Dengan diantar oleh pelatihnya, dia naik di atas gunung salju, “Sudah siap belum, Dandan?” si pelatih bertanya berulang kali.
“Sampai ketiga kali dia bertanya, saya langsung menjawab siap, dan segera loncat ke bawah. Telinga saya terdengar suara angin kencang, saya seperti seekor burung terbang di atas langit secara bebas, perasaan ini sungguh menyenangkan, saya tertarik pada main ski dalam sekejap mata saja. Namun saya tidak tahu bagaimana berhenti waktu ski ke bawah. Akhirnya saya berpelukan dengan pohon.”
Zhang Yangguangzi sering mendengar ibunya berbicara kisah-kisah main ski.
“Saya memperoleh kegembiraan daripada olahraga ski. Dalam proses main ski, saya dapat memahami perasaan yang disebutkan ibu, yaitu terbang bebas seperti seekor burung. Meskipun saya sering jatuh, kadang-kadang sakit banget, tapi saya tak pernah takut ski. Sekarang main ski sudah menjadi sebagian penting dalam kehidupan saya sendiri, siapapun tidak boleh menghalangi saya main ski. ”
Mengenang kembali pertandingan signifikan pada tahun 1997, Guo Dandan sampai sekarang tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Dalam seri pertandingan Juara Dunia Ski Gaya Bebas di Australia, Guo Dandan memilih gaya paling sulit, akhirnya dia memperoleh juara pertama karena penampilan luar biasa, dan mewujudkan terobosan Tiongkok dalam pertandingan skala dunia di cabang olahraga ski.
Olimpiade Musim Dingin Nagano Jepang 1988 adalah masa puncak kondisi olahraga Guo Dandan. Namun tak tersangka, dia terjatuh dalam percobaan sebelum pertandingan remi dimulai. Kakinya sakit parah, tapi Guo Dandan tetap menyelesaikan pertandingan dirinya, dan keluar dari area pertandingan dengan berjalan kaki sendiri.
“Saya mendapat perawatan di rumah sakit terbaik di Tokyo. Dokter kasih tahu saya, tulang kaki ku sudah patah.” Kata Guo Dandan.
Akhirnya Guo Dandan memperoleh nomor 7 dalam pertandingan ski gaya bebas di Olimpiade Nagano. Tak lama kemudiah, dia pun meninggalkan area ski. Tapi, Guo Dandan tidak meninggalkan olahraga ski es, dia membuka sekolah ski es dirinya, dan menjadi seorang ibu.

Kata Zhang Yangguangzi, dia menargetkan berjuang demi Olimpiade hanya karena satu hal kecil yang terjadi selama Olimpiade Musim Dingin Pyeongchang 2018.
“Suatu hari, kami sekeluarga duduk bersama menonton pertandingan di depan tv. Ketika pertandingan nomor ski gaya bebas dimulai, ibu tiba-tiba diam, dan tidak ingin menonton pertandingan. Saya tahu persis, itu dikarenakan ibu saya gagal memperoleh medali emas Olimpiade ketika terkena luka di Olimpiade Musim Dingin Nagano, inilah sesalan yang tersembunyi dalam hatinya. Sebagai putri ibu saya, saya harus mewujudkan impian ibu tersebut.”

Pada Agustus 2018, Zhang Yangguangzi resmi masuk tim ski Beijing khusus untuk cabang snowboard nomor Slopestyle. Pemain ski harus pandai menyelesaikan berbagai macam gaya dan trik sulit selama melakukan snowboarding.
Bertahun-tahun melatih, di tubuh Zhang Yangguangzi terdapat banyak luka di tulang selangka, bahu, tangan dan pinggang. Tapi si gadis ini tetap bertahan dan tidak pernah menyerah. Dari kisah ibunya, dia sudah memahami, semangat Olimpiade bukan hanya berdiri di podium tertinggi, melainkan gigih berani, berjuang, tidak menyerah dan maju terus !

“Impian saya ialah, 5 tahun kemudian, saya berdiri di atas podium Olimpiade Milan 2026, lagu kebangsaan RRT diputarkan, bendera nasional RRT dinaikkan. Saya yakin, sampai waktu itu saya dapat menyelesaikan misi pemain ski dua generasi yaitu ibu dan saya yang berjuang demi tanah air. ”