
Bagi kebanyakan orang, sebuah perjalanan jauh di masa muda bertujuan untuk mengenal dunia dan memperluas pengetahuan, tapi bagi Yusra Mardini yang berusia 23 tahun, tujuannya ialah untuk meninggalkan kampung halamannya yang terlibat dalam peperangan. Dari air laut yang dingin sampai kolam renang Olimpiade, dengan keberanian, kerajinan dan keuletannya, akhirnya dia dapat mewujudkan impian berenangnya. “Saya suka berenang, saya dapat masuk Olimpiade berkat renang, jiwa saya juga terselamatkan berkat renang.” Demikian dikatakan gadis asal Suriah yang mengikuti Olimpiade Tokyo dengan status anggota Kontingen Pengungsi.
Inilah kedua kalinya Yusra mengikuti Olimpiade, yang pertama kali ialah Olimpiade Rio 2016. Pada tahun itu, Komite Olimpiade Internasional (IOC) untuk pertama kali membentuk kontingen pengungsi dengan tujuan menarik perhatian seluruh dunia terhadap masalah pengungsi.

Tahun ini, skala Kontingen Pengungsi diperbesar dari 10 orang pada 4 tahun yang lalu sampai 29 orang saat ini. Yusra menjadi pembawa bendera Kontingin Pengungsi di upacara pembukaan Olimpiade. “Ketika saya menyadari bahwa kami mewakili begitu banyak pengungsi di dunia khususnya kaum muda, saya bukan lagi seorang gadis biasa.”
Ayah Yusra adalah seorang pelatih renang, oleh karena itu, pada usia 4 tahun, Yusra sudah mulai belajar berenang. Berlatih setiap hari sangat membosankan dan sulit, dia pernah “melarikan diri” dan pernah menyerah, tapi akhirnya tetap kembali ke kolam renang karena kecintaannya akan berenang. Dia bercita-cita mewakili Suriah mengikuti pertandingan renang Olimpiade.
Segalanya pupus karena perang tiba-tiba terjadi, berenang, kehidupannya dan impiannya.

Tak ada seorang pun yang lolos dalam perang. Suatu hari Yusra memberanikan diri untuk keluar berlatih, sebuah bom jatuh ke dalam kolam renang, dua rekan timnya kehilangan nyawa untuk selama-lamanya.
Pada usia 17 tahun, dia dan kakak perempuannya memulai perjalanan pelarian mereka. Di Turki, mereka naik perahu karet, yang memuat 20 penumpang. Pada larut malam, kapal tersebut tiba-tiba rusak, dia dan kakak perempuannya terjun ke laut, mereka berenang di laut yang dingin selama 3 jam dan menarik perahu karet terus maju, 20 jiwa terselamatkan.
Dari Yunani, beralih ke Jerman. Meskipun berada di kamp pengungsi Berlin, dia belum pernah melupakan impiannya. Dia berkata pada diri sendiri, “Saya adalah seorang perenang, saya masih ingin berlatih, saya ingin mengikuti Olimpiade.”

Dengan demikian, pada Olimpiade Rio 2016, Yusra bersama 9 pengungsi lainnya membentuk Kontingin Pengungsi pertama dalam sejarah Olimpiade. Pada babak pertama renang 100 meter gaya kupu-kupu putri Olimpiade Tokyo 2020, Yusra mencapai peringkat ketiga grup, meskipun gagal lolos, tapi dia telah memperoleh penghormatan dari dunia.
“Saya ingin mengatakan kepada para pengungsi, harus percaya pada impian sendiri, dan percaya pada kekuatan sendiri, kita sudah mengatasi begitu banyak kesulitan, tiap orang dapat berusaha, tiap tindakan sama pentingnya. ”