Pada tanggal 22 bulan ini, sebuah pos lotere di sebuah komunitas di Distrik Qiaokou Kota Wuhan Provinsi Hubei yang diselenggarakan seorang penyandang cacat diresmikan. Pemilik pos lotere itu menampilkan pertunjukan yang dinamis sehingga menarik datangnya tetangganya.
Para penonton tertarik oleh nyanyian pria cacat yang tinggi badannya 1,45 meter. Ketika ia menyanyikan sebuah lagu bahasa Guangdong, ia bahkan melemparkan tongkatnya dan memperlihatkan ketrampilan berdiri di atas tangannya dan kemudian jungkir balik ke belakang dari sebuah bangku sehingga para penonton merasa sangat terhibur.
Penyanyi cacat itu bernama Huang Mao, lahir di Guangxi pada tahun 1975 dan sejak lahir kakinya sudah cacat. Ketika ia masih kecil, orangtuanya bercerai, ditambah ia cacat kakinya, ia merasa sangat terpukul.
Huang Mao ketika berumur 8 tahun sudah mulai berguru kepada orang dan belajar ketrampilan badan. Melalui latihan yang rajin, ia dapat memperlihatkan kepandaian berdiri di atas tangan, berdiri di atas dua jari dan salto ke belakang dari bangku. Setelah itu, ia mulai mengembara di provinsi-provinsi Guangdong dan Guangxi sementara menunjukkan ketrampilannya, makan dalam angina dan tidur di embun, hidupnya tergantung pada derma orang lainnya, dan amat sulit mencari nafkah.
Pada tahun 1997, Huang Mao datang di Provinsi Sichuan. Pada malam hari ia melihat Karaoke di jalan-jalan sangat disambut. Ia berpikir bahwa alangkah baiknya kalau ia pandai menyanyi ketika menunjukkan ketrampilan badan. Maka, ia mulai belajar menyanyi lagu-lagu pop dan ternyata ia sangat berbakat. Seorang guru bernama Li dengan murah hati membantu Huang Mao dan sejak itu Huang Mao mempunyai nama panggung Li Xiaomao.
Pada tahun 2003, Li Xiaomao yang berumur 28 tahun datang di Kota Wuhan. Pada siang hari, ia menunjukkan ketrampilannya di Jalan Shouyi Wuchang danTaman Sun Yetsen, dan malam hari ia nongkrong di rongga jembatan. Kehidupan susah pengembara seperti ini akhirnya mengalami perubahan juga.
Pada tahun 2004, ketika Li Xiaomao menunjukkan ketrampilannya di Taman Taman Sun Yetsen, seorang gadis cantik datang bersapa. "Saya jarang sekarang bergaul dengan perempuan, ketika itu maka saya sampai merah karena merasa malu", demikian kata Li Xiaomao. Nona Lu adalah warga Kota Wuhan, ia juga cacat kaki, ia sangat tertarik oleh pertunjukan Li Xiaomao karena menyanyi juga adalah hobinya.
Pada tahun 2005, dua orang yang saling mencintai itu dengan mengatasi berbagai rintangan berhasil menjalin perkawinan. Anak puteri mereka kini sudah berumur 5 tahun. Li Xiaomao kini mengakhiri kehidupan mengembara dan segenap keluarganya hidup tergantung pada jaminan sosial. Namun, kalau teman-teman meminta, ia juga senang sekali menunjukkan ketrampilan badannya yang luarbiasa.

















