Meskipun dalam Konferensi Perubahaan Iklim Durban, Afrika Selatan, Tiongkok telah menyatakan ketulusan untuk mensukseskan konferensi ini, tetapi pakar iklim Tiongkok berpendapat, dilihat dari proses dan hasil konferensi sebelumnya, ketulusan Tiongkok belum tentu dapat mendapat tanggapan positif negara-negara maju.
Ketua Delegasi Tiongkok Xie Zhenhua telah menyatakan bahwa Tiongkok bersedia menerima perjanjian pengurangan emisi pasca 2020 dengan prasyarat tertentu. Negara-negara maju juga diminta menandatangani komitmen tahap kedua dalam Protokol Kyoto, membentuk badan pendanaan iklim hijau, dan membentuk sistem pengawasan eksekutif, serta segera melaksanakan komitmen, menghormati prinsip "bertanggungjawab tapi berbeda" serta prinsip adil dan dalam batas kemampuan.
Pakar iklim Tiongkok Cao Rongxiang mengatakan: "komitmen pengurangan emisi dengan prayarat tertentu merupakan ketulusan terbesar yang dinyatakan Tiongkok."
Tiongkok adalah negara berkembang pertama yang mengumumkan program untuk menghadapi perubahaan iklim. Dari 2006 hingga 2010, konsumsi energi per unit PDB Tiongkok menurun 19,1 persen dari 2005, setara dengan menghemat konsumsi 630 juta ton batu bara, mengurangi emisi 1,5 miliar ton karbon dioksida.
Sedangkan negara-negara maju selalu meminta Tiongkok bergabung dalam pengurangan emisi yang terpaksa, yakni mengikuti satu standar bersifat mengikat. Itulah salah satu perselisihan antara negara-negara berkembang, termasuk Tiongkok dengan negara-negara maju.
Selain itu, mengenai prinsip "Bertanggungjawab tapi berbeda", pengertian Tiongkok pada kata "berbeda" adalah "keinginan sendiri" atau "pemaksaan", sedangkan pengertian negara-negara maju pada kata itu adalah "perbedaan pada kapasitas".
Maka pakar terkait berpendapat, Tiongkok boleh dikatakan cukup hebat karena rela menerima persetujuan pengurangan emisi berkapasitas pasca 2020 dengan prasyarat, karena Tiongkok ingin Konferensi Durban dapat mencapai sesuatu hasil positif.
Sejauh ini sikap positif Tiongkok itu belum ditanggapi positif oleh negara-negara maju, bahkan ada yang masih bersikeras untuk meluncurkan program pengurangan emisi yang dipaksakan kepada semua negara. Maka Konferensi Durban sejauh ini masih berprospek suram.

















