Pertemuan Laut Tiongkok Selatan di Malaysia Sampaikan Informasi Baru
  2011-12-15 12:49:45  CRI

Harian Renminribao Tiongkok menurunkan artikel menanggapi pertemuan tentang Laut Tiongkok Selatan yang diselenggarakan Institut Maritim Malaysia di Kuala Lumpur Senin dan Selasa lalu. Pertemuan bertema "Kemajuan terbaru dan pengaruh penyelesaian masalah Laut Tiongkok Selatan secara damai" itu dihadiri hampir 200 pejabat pemerintah, pakar dan ilmuwan dari negara-negara ASEAN, Tiongkok, Amerika Serikat dan Australia.

Tiongkok dan ASEAN telah menandatangani pedoman aksi tindak lanjut pelaksanaan Deklarasi Perilaku Para Pihak Laut Tiongkok Selatan bulan Juli yang lalu. Kemudian, Tiongkok dan Vietnam mencapai enam butir kesepakatan bilateral mengenai pedoman penyelesaian masalah di laut. Kementerian Luar Negeri Tiongkok bulan lalu menyatakan kesediaan untuk bersama dengan negara-negara ASEAN mendorong proses pelaksanaan Deklarasi Perilaku Para Pihak Laut Tiongkok Selatan, mengadakan kerja sama pragmatis dan menjajaki penyusunan "Patokan Perilaku Laut Tiongkok Selatan".

Para pakar peserta pertemuan di Kuala Lumpur itu memberikan penilaian tinggi terhadap serentetan perubahan positif yang timbul dalam masalah Laut Tiongkok Selatan. Asisten riset Biro Nasional Penelitian Asia Amerika Serikat Mark Valencia menyatakan, serangkaian kemajuan positif telah dicapai mengenai masalah Laut Tiongkok Selatan dalam tahun ini, para pihak yang terlibat sengketa bersedia duduk berunding. Ini suatu kemajuan.

Para pakar berpendapat bahwa turunnya suhu dewasa ini menguntungkan perundingan tentang patokan perilaku tahap berikutnya yang segera akan dimulai. Namun para pihak juga perlu memperhitungkan kesulitan yang akan dihadapi dalam perundingan tersebut.

Dikatakan oleh periset Amerika Serikat tersebut, situasi Laut Tiongkok Selatan dewasa ini meski masih kurang cerah, namun ASEAN dan Tiongkok sedang mencari jalur yang tepat, dan ini perlu dipertahankan. Periset Pusat Sumber Daya Kelautan dan Penjagaan Keamanan Nasional Australia menunjukkan perlunya mengambil tindakan di dua bidang: di satu pihak perlu meningkatkan kerja sama untuk bersama-sama mengelola Laut Tiongkok Selatan dan sumber dayanya, dan di pihak lain perlu melakukan pembangunan kepercayaan dan keamanan.

Profesor Muda Zhang Xinjun dari Universitas Tsinghua menunjukkan, untuk memulai perundingan tentang "patokan perilaku Laut Tiongkok Selatan", pertama harus menyimpulkan pengalaman dan pelajaran dalam pelaksanaan Deklarasi Perilaku Para Pihak Laut Tiongkok Selatan selama 10 tahun lalu, serta mengisi dan memperkuatnya. Dan kedua, perlu mempertimbangkan dua tema yang sejajar dalam kewajiban perundingan sebelum penggarisan perbatasan dicapai, yakni perlunya menaati patokan perilaku, tidak memperburuk situasi atau menghambat proses perundingan, sementara itu perlu mempertimbangkan sementara hubungan substansial dalam patokan perilaku dan pengaturan bersifat sementara termasuk eksploitasi bersama, kedua-duanya tidak boleh dikesampingkan.

Para pakar peserta pertemuan sependapat bahwa sengketa mengenai Laut Tiongkok Selatan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat, tapi membutuhkan upaya beberapa generasi. Eksploitasi bersama menguntungkan untuk mencapai kemenangan bersama. Pada masa awal pembahasan "patokan perilaku Laut Tiongkok Selatan", mempunyai arti yang lebih penting untuk terus mendorong pembangunan kepercayaan.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040