Harian Renminribao Tiongkok menurunkan artikel menanggapi pertemuan tentang Laut Tiongkok Selatan yang diselenggarakan Institut Maritim Malaysia di Kuala Lumpur Senin dan Selasa lalu. Pertemuan bertema "Kemajuan terbaru dan pengaruh penyelesaian masalah Laut Tiongkok Selatan secara damai" itu dihadiri hampir 200 pejabat pemerintah, pakar dan ilmuwan dari negara-negara ASEAN, Tiongkok, Amerika Serikat dan Australia.
Tiongkok dan ASEAN telah menandatangani pedoman aksi tindak lanjut pelaksanaan Deklarasi Perilaku Para Pihak Laut Tiongkok Selatan bulan Juli yang lalu. Kemudian, Tiongkok dan Vietnam mencapai enam butir kesepakatan bilateral mengenai pedoman penyelesaian masalah di laut. Kementerian Luar Negeri Tiongkok bulan lalu menyatakan kesediaan untuk bersama dengan negara-negara ASEAN mendorong proses pelaksanaan Deklarasi Perilaku Para Pihak Laut Tiongkok Selatan, mengadakan kerja sama pragmatis dan menjajaki penyusunan "Patokan Perilaku Laut Tiongkok Selatan".
Para pakar peserta pertemuan di Kuala Lumpur itu memberikan penilaian tinggi terhadap serentetan perubahan positif yang timbul dalam masalah Laut Tiongkok Selatan. Asisten riset Biro Nasional Penelitian Asia Amerika Serikat Mark Valencia menyatakan, serangkaian kemajuan positif telah dicapai mengenai masalah Laut Tiongkok Selatan dalam tahun ini, para pihak yang terlibat sengketa bersedia duduk berunding. Ini suatu kemajuan.
Para pakar berpendapat bahwa turunnya suhu dewasa ini menguntungkan perundingan tentang patokan perilaku tahap berikutnya yang segera akan dimulai. Namun para pihak juga perlu memperhitungkan kesulitan yang akan dihadapi dalam perundingan tersebut.
Dikatakan oleh periset Amerika Serikat tersebut, situasi Laut Tiongkok Selatan dewasa ini meski masih kurang cerah, namun ASEAN dan Tiongkok sedang mencari jalur yang tepat, dan ini perlu dipertahankan. Periset Pusat Sumber Daya Kelautan dan Penjagaan Keamanan Nasional Australia menunjukkan perlunya mengambil tindakan di dua bidang: di satu pihak perlu meningkatkan kerja sama untuk bersama-sama mengelola Laut Tiongkok Selatan dan sumber dayanya, dan di pihak lain perlu melakukan pembangunan kepercayaan dan keamanan.
Profesor Muda Zhang Xinjun dari Universitas Tsinghua menunjukkan, untuk memulai perundingan tentang "patokan perilaku Laut Tiongkok Selatan", pertama harus menyimpulkan pengalaman dan pelajaran dalam pelaksanaan Deklarasi Perilaku Para Pihak Laut Tiongkok Selatan selama 10 tahun lalu, serta mengisi dan memperkuatnya. Dan kedua, perlu mempertimbangkan dua tema yang sejajar dalam kewajiban perundingan sebelum penggarisan perbatasan dicapai, yakni perlunya menaati patokan perilaku, tidak memperburuk situasi atau menghambat proses perundingan, sementara itu perlu mempertimbangkan sementara hubungan substansial dalam patokan perilaku dan pengaturan bersifat sementara termasuk eksploitasi bersama, kedua-duanya tidak boleh dikesampingkan.
Para pakar peserta pertemuan sependapat bahwa sengketa mengenai Laut Tiongkok Selatan tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat, tapi membutuhkan upaya beberapa generasi. Eksploitasi bersama menguntungkan untuk mencapai kemenangan bersama. Pada masa awal pembahasan "patokan perilaku Laut Tiongkok Selatan", mempunyai arti yang lebih penting untuk terus mendorong pembangunan kepercayaan.

















