Analis berpendapat, kegagalan "perang propaganda" Jepang itu hal yang dapat dipastikan.
Penyebab pertama, "Perang Propaganda" Jepang tersebut sama sekali tidak berdasar. Kenyataan pencurian Pulau Diaoyu oleh Jepang pada Perang Jiawu telah dibuktikan pakar sejarah kedua negara, juga dapat ditemukan bukti kuat dari dokumen sejarah pemerintah Jepang. Hal ini tidak dapat dibantah.
Kedua, Jepang bermuka dua soal Pulau Diaoyu, tentu saja tidak bisa mendapat dukungan dunia internasional.
Jepang berulang kali menyatakan harapan untuk memecahkan Pulau Diaoyu secara damai, tetapi mereka justru tidak mengakui adanya perselisihan soal kedaulatan atas Pulau Diaoyu. Tindakan itu saling bertentangan. Di satu pihak, harapan untuk perdamaian dipertunjukkan kepada dunia. Sedangkan di pihak lain, Jepang tidak mengakui perselisihan adalah sikap yang ditunjukkan kepada Tiongkok. Sikap bermuka dua Jepang tersebut tentu saja akan mempersulit masalah Pulau Diaoyu. Karena itu, wajar Menlu Jepang tidak mendapat "simpati" dari ketiga negara Eropa yang dikunjungi.
Selain itu, negara besar Eropa juga tidak ingin memihak dalam masalah Pulau Diaoyu, dan mengambil sikap tidak akan mengintervensi. Dengan demikian, maksud Jepang untuk mendapat dukungan dari negara-negara Eropa tentu saja tidak dapat tercapai.

















