Eropa Tanggapi Dingin Kunjungan Menlu Jepang
  2012-10-22 14:10:03  CRI
Menteri Luar Negeri Jepang Koichiro Genba hari Sabtu lalu (20/10) telah mengakhiri kunjungan di Perancis, Inggris, dan Jerman. Salah satu tujuan terpenting dalam lawatan ini adalah mengupayakan dukungan negara-negara Eropa pada sikap Jepang terkait Pulau Diaoyu. Namun dilihat dari hasilnya, kunjungan Menlu Jepang itu ternyata ditanggapi dingin oleh ketiga negara tersebut. Maksud Jepang untuk mengadakan "perang propaganda" di dunia internasional dengan memutarbalikan kenyataan ternyata tidak mencapai hasil.

Analis berpendapat, kegagalan "perang propaganda" Jepang itu hal yang dapat dipastikan.

Penyebab pertama, "Perang Propaganda" Jepang tersebut sama sekali tidak berdasar. Kenyataan pencurian Pulau Diaoyu oleh Jepang pada Perang Jiawu telah dibuktikan pakar sejarah kedua negara, juga dapat ditemukan bukti kuat dari dokumen sejarah pemerintah Jepang. Hal ini tidak dapat dibantah.

Kedua, Jepang bermuka dua soal Pulau Diaoyu, tentu saja tidak bisa mendapat dukungan dunia internasional.

Jepang berulang kali menyatakan harapan untuk memecahkan Pulau Diaoyu secara damai, tetapi mereka justru tidak mengakui adanya perselisihan soal kedaulatan atas Pulau Diaoyu. Tindakan itu saling bertentangan. Di satu pihak, harapan untuk perdamaian dipertunjukkan kepada dunia. Sedangkan di pihak lain, Jepang tidak mengakui perselisihan adalah sikap yang ditunjukkan kepada Tiongkok. Sikap bermuka dua Jepang tersebut tentu saja akan mempersulit masalah Pulau Diaoyu. Karena itu, wajar Menlu Jepang tidak mendapat "simpati" dari ketiga negara Eropa yang dikunjungi.

Selain itu, negara besar Eropa juga tidak ingin memihak dalam masalah Pulau Diaoyu, dan mengambil sikap tidak akan mengintervensi. Dengan demikian, maksud Jepang untuk mendapat dukungan dari negara-negara Eropa tentu saja tidak dapat tercapai.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040