Meski masuk dalam kelompok motor ekonomi baru MINT, prospek ekonomi Indonesia ternyata tidak secerah yang diharapkan. Bank Dunia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia melambat pada tahun kuda 2014.
Dalam proyeksi triwulanannya, Bank Dunia menyatakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya mencapai 5,3 persen pada 2014. Angka ini turun jika dibandingkan 2013 yang mampu tumbuh hingga 5,6 persen. Penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi Indonesia antara lain turunnya investasi.
Menurut Bank Dunia, pertumbuhan investasi Indonesia hanya mencapai 4,5 persen pada triwulan III-2013. Penurunan terbesar ada pada sektor penyokong dan barang modal seperti alat berat dan industri mesin. Melambatnya investasi juga terjadi di bursa saham sebagai dampak rencana pengurangan stimulus moneter bank sentral Amerika.
Demi menjaga pertumbuhan, Bank Dunia menyarankan Indonesia agar untuk memperkuat stabilitas makro jangka pendek melalui kebijakan moneter dan penguatan rupiah. Reformasi struktural juga diperlukan untuk meningkatkan neraca perdagangan dan merangsang laju pertumbuhan jangka panjang. Caranya dengan memperbaiki iklim usaha dan infrastruktur logistik.
Dalam laporannya, Bank Dunia juga memperkirakan defisit neraca transaksi berjalan Indonesia akan menyusut dari 3,5 persen terhadap Produk Domestik Bruto pada 2013 menjadi 2,6 persen terhadap PDB pada 2014. Menurut Bank Dunia, Indonesia harus menggenjot ekspor dan mengamankan investasi asing untuk mengatasi defisit neraca transaksi berjalan.
Tahun lalu, Bank Dunia juga menurunkan prediksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 6,2 persen menjadi 5,9 persen. Anjloknya prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia disebabkan semakin tergerusnya neraca perdagangan, turunnya outlook dari investor luar negeri serta harga komoditas yang bertengger di level rendah.

















