
Bertepatan tanggal 7 Juli yakni peringatan 77 tahun Insiden Jembatan Marco Polo (Jembatan Lugouqiao) yang menandai dimulainya agresi Jepang terhadap Tiongkok, Museum Arsip Pemerintah Pusat Tiongkok resmi memublikasikan pengakuan pelaku kejahatan perang Jepang di internet. Dokumen tersebut mencatat pengakuan 45 penjahat perang Jepang yang diadili Mahkamah Agung Rakyat Tiongkok. Dokumen pengakuan tersebut mencatat berbagai kejahatan antikemanusiaan yang dilakukan pasukan perang Jepang selama pendudukannya di Tiongkok. Naskah asli pengakuan dalam bahasa Jepang dan terjemahannya diunggah ke internet dalam bentuk foto scanning. Di antaranya termasuk catatan pengakuan penjahat perang Suzuki Keiku. Isi pengakuan tersebut diunggah secara utuh tanpa dipotong, hanya saja nama-nama perempuan yang menjadi korban penganiayaan seksual disamarkan. Wakil Kurator Museum Arsip Pemerintah Pusat, Li Minghua menjelaskan bahwa dipublikasikannya pengakuan penjahat perang secara utuh adalah untuk menonjolkan keasliannya.

Pengakuan penjahat perang Suzuki Keiku yang dipublikasikan kemarin (3/7) menunjukkan, penjahat perang tersebut menggunakan gas beracun untuk membunuh 50 tentara anti-agresi Tiongkok dalam sebuah pertempuran di Xuancheng, Provinsi Anhui, Tiongkok timur pada September 1940. pada tahun 1941, Suzuki Keiku membentuk rumah wanita penghibur di kabupaten Chaoxian, Provinsi Anhui di mana sebanyak 20 wanita warga Tiongkok dan Korea dipaksa menjadi wanita penghibur. Pada Januari 1942, Suzuki Keiku melancarkan serangan terhadap sebuah desa di dekat kota Tangshan, Provinsi Hebei. Ia memerintahkan tentara bawahannya membakar kurang lebih 800 rumah dan membunuh 1.000 lebih petani Tiongkok. Dari pengakuan tersebut diketahui Suzuki Keiku melakukan 22 pasal kejahatan perang, termasuk pembunuhan rakyat sipil, melancarkan perang kuman, merekrut paksa ianfu atau wanita penghibur dan sejumlah tindak kejahatan lainnya. Dokumen pengakuan tersebut juga mencatat berbagai kejahatan yang dilakukan penjahat perang Jepang di Tiongkok.
Meski telah tersimpan berpuluh-puluh tahun, catatan pengakuan penjahat perang Jepang tersebut masih terlihat segar. Sayangnya, warga Jepang yang lahir pasca perang sudah samar ingatannya mengenai penderitaan yang diakibatkan pendudukan Jepang di Asia. Dalam beberapa tahun terakhir, pihak otoritas Jepang sengaja mempersolek sejarah agresi dan bermaksud mengelak dari tangung jawab.
Li Minghua mengatakan, dipublikasikannya pengakuan penjahat perang Jepang di internet bertepatan pada peringatan 77 tahun Insiden Jembatan Marco Polo justru sebagai tanggapan terhadap tindakan kelompok sayap kanan Jepang yang berupaya menyangkal kejahatan, kekerasan dan kebrutalan dalam agresinya terhadap Tiongkok, serta untuk mengekspos kebrutalan antikemanusiaan, antimanusia dan anti peradaban yang dilakukan militerisme Jepang terhadap rakyat Tiongkok.

















