Sebagai satu-satunya negara anggota G-20 dari ASEAN, Presiden Indonesia Joko Widodo menghadiri KTT G-20 yang diselenggarakan di kota Hangzhou. Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong dalam wawancara dengan wartawan CRI menyatakan, Indonesia akan bersikap terbuka dan inklusif, mempelajari keberhasilan perkembangan Tiongkok, dan menikmati ekonomi dunia yang inklusif dengan berbagai negara.
Setelah tiba di kota Hangzhou, Presiden Jokowi langsung mengunjungi Markas Besar Alibaba, serta mengajak Bos Alibaba Jack Ma untuk menjadi penasehatnya. Thomas Lembong yang sekarang menjabat sebagai Kepala BKPM menyatakan bahwa pengalaman Alibaba sangat pantas dipelajari Indonesia, karena E-Commerce bisa memajukan usaha kecil dan menengah Indonesia. " Sebagai contoh, Tiongkok sekarang sudah berhasil menciptakan suatu sektor E-commerce yang sangat raksasa, sangat berhasil, dan manfaatnya meluas bahkan sampai ke desa-desa, dan daerah-daerah yang jauh dari kota-kota. Orang bisa belajar dengan mobile phone, bisa menjual produk pertanian, kerajinan melalui on-line, melalui mobil. Saya melihat kemungkinan bahwa Tiongkok bisa membawa keahlian E-commerce kepada negara-negara lain, terutama tetangga-tetangga di Asia Tenggara, termasuk Indonesia." Demikian dikatakan Thomas Lembong.
Pembangunan infrastruktur juga adalah arah penting perkembangan Indonesia di masa kini. Dalam kunjungannya kali ini ke kota Hangzhou, Tom Lembong sendiri sempat menikmati pengalaman naik kereta api kecepatan tinggi dari Shanghai ke Hangzhou. Dia menyatakan Kereta api kecepatan tinggi yang menghubungkan Jakarta dan Bandung akan menjadi sebuah proyek simbolik, ini adalah simbol teknologi tinggi dan kapasitas produksi, juga adalah simbol kerja sama persahabatan Tiongkok dan Indonesia.
Tom Lembong mengatakan " Saya mengemukakan pendapat saya kepada rekan-rekan menteri di kabinet, saya bisa membayangkan bahwa suatu masyarakat seperti Tiongkok bisa mempunyai teknoloki canggih yang bisa merubah persepsi diri. Ini bisa meningkatkan kepercayaan diri dan kebanggaan rakyat Tiongkok. Saya tahu bahwa itu adalah salah satu faktor yang membuat presiden Jokowi memutuskan Indonesia juga harus mempunyai kereta api cepat."
Dalam wawancara tersebut, Tom Lembong juga menyatakan bahwa berharap pihak-pihak terkait yang menghadiri KTT G-20 bisa bersikap terus terang, dan bersama-sama membahas "Rancangan Tiongkok". "Dialog yang terbuka, yang jujur antara pemimpin-pemimpin dan pejabat-pejabat dari 20 negara terbesar di dunia pasti akan sangat membantu untuk menciptakan suasana yang kondusif dan konstruktif, jadi semoga kita bisa berfokus bersama pada solusi, bukan saling menyalahkan atau defensif mengenai tantangan-tantangan yang kita hadapi masing-masing, tapi memang perlu suatu semangat kebersamaan", ujar Kepala BKPM itu.