Xi Jinping dan Ibunya
  2018-05-19 14:45:36  CRI

Di atas rak buku Sekretaris Jenderal Komite Sentral Partai Komunis Tiongkok (PKT), Xi Jinping, selalu ada sebuah foto yang mencatat momen Xi Jinping mendampingi ibunya, Qi Xin, berjalan-jalan di taman.

Xi Jinping sangat mencintai keluarganya. Ia menghormati orangtua dan mementingkan hubungan akrab keluarga.

Kerinduan dari Ibunda

"Buah hati Ibu"

Ayah dan ibu Xi Jinping kedua-duanya adalah kader dan anggota PKT. Karena ayahnya, Xi Zhongxun, pernah mendapat perlakuan yang tidak adil sejak 1962, Qi Xin membawa anak bungsunya, Xi Yuanping, yang belum dewasa bekerja ke sebuah perusahaan pertanian di daerah Huangfan, Provinsi Henan, sedangkan Xi Jinping bekerja di regu produksi pedesaan di daerah Shanbei, Provinsi Shaanxi, dan dua kakak perempuannya diturunkan ke korps produksi dan konstruksi.

Semua anggota keluarganya dipisahkan di berbagai tempat, bagaimana ibu tidak merindu anak-anak kesayangannya dan khawatir anak lelakinya yang sedang menjalani kehidupan yang susah di desa Provinsi Shaanxi itu. Makanya, dia menjahit sebuah bingkisan jarum benang, dan menyulam aksara-aksara dengan benang warna merah di atasnya: Buah hati Ibu!

Di depan resepsi Tahun Baru Imlek 2015, Sekretaris Jenderal Xi Jinping menbaca sebuah sajak dari penyair Dinasti Tang, Meng Jiao mengenai perasaan orang yang menetap di tempat yang jauh dari rumahnya. Dikatakannya, puisi itu mengekspresikan perasaan akrab keluarga dalam lubuk hati rakyat Tiongkok.

Xi Jinping tidak mengecewakan ibunya selama ia tinggal di Desa Liangjiahe, Provinsi Shaanxi. Pada tahun-tahun itu, Xi Jinping pernah melakukan semua pekerjaan yang sulit, termasuk menggarap tanah, mengangkut batu bara, membangun bendungan dan memikul kotoran. Dalam kehidupan di desa selama 7 tahun, ia menjalin persahabatan yang mendalam dengan orang lokal di Shaanbei. Pada tahun 1975, Xi Jinping direkomendasi untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Tsinghua. Pada hari keberangkatan, semua warga desa itu berantri panjang untuk melepaskannya.

(Xi Jinping dan penghuni Desa Liangjiahe)

Ketika meninggalkan Desa Liangjiahe, Xi Jinping memberikan bingkisan jarum benang yang dijahit ibunya itu kepada tetangganya, Zhang Weipang, sebagai kenang-kenangan. Justru seperti apa yang dikatakannya "saya sudah tinggalkan hatiku di sini."

Pesan dari Ibunda 

Baktikan Dirinya kepada Tanah Air

"Semua keluarga harus mementingkan pendidikan anak-anak baik di bidang ilmu pengetahuan maupun budi bekerti, harus membantu anak mengikat kancing pertama dan mengayunkan langkah pertama kehidupan mereka." Xi Jinping sangat mementingkan pendidikan keluarga. Rasa tanggung jawab kepada negara justru terbentuk dalam pengaruh lingkungan keluarganya pada masa kanak-kanak.

(Tahun 1958, Xi Zhongxun bersama anak lelakinya, Jinping dan Yuanping. Sumber: Biografi Gambar Xi Zhongxun. )

Xi Jinping sedang mengenangkan kehidupan dengan ibunya pada masa kanak-kanak. Dalam buku Cinta Saya pada Kesastraan, ia pernah mengungkapkan bahwa ketika dia berumur lima atau enam tahun, ibunya menggendong Xi Jinping yang malas berjalan kaki itu ke sebuah toko buku untuk membeli buku gambar mengenai cerita Pahlawan Yue Fei. Ibunya membacakan cerita ibu Yue Fei yang menato di punggung Yue Fei supaya Yue Fei membaktikan dirinya kepada tanah air.

"Saya bilang, alangkah sakitnya bikin tato di punggungnya! Ibu saya jawab, sakit sih sakit, tapi dapat diingatkan." Sejak itu, membaktikan diri kepada tanah air selalu diingat Xi Jinping sampai sekarang ini sehingga menjadi tujuannya seumur hidup.

Nasihat dari Ibunda

Disiplinkan Diri

Qi Xin yang mementingkan pendidikan anak itu selalu memberikan pengaruh dalam proses pertumbuhan Xi Jinping. Ia sering menulis surat kepada Xi Jinping yang bekerja sebagai pemimpin di provinsi lain agar ia tahu "di posisi tinggi juga susah tahan kedinginannya", dan menuntut dia agar selalu mendisiplinkan diri. Setelah Xi Jinping memangku jabatan pemimpin, Qi Xin khusus mengadakan rapat keluarga untuk menuntut anggota keluarga lainnya tidak boleh melakukan aktivitas perdagangan di bidang yang dipimpin Xi Jinping.

(Tahun 1975, Xi Zhongxun dan Qi Xin dengan anak-anak mereka di Studio Pemotretan Hongqi di Kota Luoyang. Barisan kedua dari kiri, anak lelaki Xi Jinping, anak perempuan Xi Anan, Menantu Wu Long. Sumber: Biografi Gambar Xi Zhongxun. )

Terpengaruh oleh orangtuanya, Xi Jinping juga menuntut keras kepada keluarga sendiri untuk mewarisi tradisi keluarga. Sesudah dia diangkat sebagai pemimpin, di setiap tempat pekerjaannya, dia akan memberitahukan kepada kerabat dan sahabatnya: "Jangan melalukan aktivitas perdagangan apa pun di tempat pekerjaan saya, jangan melakukan sesuatu atas nama saya, kalau melanggar itu, saya tak akan mengampuninya." Baik bekerja di Provinsi Fujian dan Zhejiang maupun di Kota Shanghai, ia menyatakan sikap di depan sidang umum bahwa tidak mengizinkan siapa pun yang mengupayakan kepentingan sendiri atas namanya, dan disambut pengawasan terhadap dirinya.

Pengertian dari Ibunda

Bekerja Keras Adalah Bakti Terbaik Kepada Orangtua

Xi Jinping sangat berbakti kepada ibunya. Kalau ada waktu leluasa, ia pasti mendampingi ibunya, jalan-jalan atau berobrol, akan tetapi, sebagai pemimpin dan kader, ia sering sibuk sehingga jarang pulang rumah untuk reuni dengan ibunya bahkan pada hari liburan.

Film dokumenter Stasiun Televisi Chongqing yang berjudul Loyalitas-Qi Xin, Istri Xi Zhongxun pernah mencatat sebuah momen sebagai berikut:

Pada Tahun Baru Imlek 2001, Qi Xin berbiara melalui telepon dengan Xi Jinping yang sedang menjabat sebagai Gubernur Provinsi Fujian. Pada festival itu, Xi Jinping tidak sempat pulang ke Beijing untuk reuni dengan orangtuanya.

"Ibu senang mendengar kamu sibuk bekerja. Biarpun kamu pulang atau tidak, yang penting adalah kamu melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya. Itulah budi terbaik kepada ayah dan ibu. Itulah bertanggungjawab kepada keluarga juga kepada kamu sendiri. Itulah selaras." Ibunya memberikan dukungan kuat kepada pekerjaan Xi Jinping dan juga pengertian penuh kepada anaknya yang tidak dapat pulang rumah.

Bagi sebuah keluarga yang mempunyai tradisi revolusioner yang unggul itu, "negara" dan "rakyat" selalu dinomor-satukan, kemudian baru "keluarga sendiri". Sebenarnya, tidak hanya tahun 2001 saja, selama 17 tahun dari 1985 hingga 2002, Xi Jinping yang bekerja di Provinsi Fujian jarang bereuni dengan keluarganya pada Tahun Baru Imlek.

(Menjelang Tahun Baru Imlek 2018, Xi Jinping mengunjungi sebuah keluarga miskin di Desa Sanhe, Kabupaten Zhaojue, Keresidenan Otonom Etnis Yi Liangshan, Provinsi Sichuan. Wartawan Kantor Berita Xinhua, Ju Peng. )

Keluarga bagaikan negara terkecil, negara terdiri dari puluhan juta keluarga, keluarga dan negara berkaitan erat. Mementingkan keluarga, mementingkan pendidikan keluarga dan mementingkan tradisi keluarga adalah latar belakang Xi Jinping dan keluarganya, dan juga telah dicantumkan ke dalam pikiran dan praktek pemerintahan negara Xi Jinping. Selama beberapa tahun ini, Xi Jinping tak pernah lupa pada nasihat ibunya dan mempertahankan cita-citanya semula. Meninjau kembali 6 kali Festival Tahun Baru Imlek sejak Xi Jinping terpilih sebagai Sekretaris Jenderal Komite Sentral PKT, ia pernah mengunjungi sejumlah besar daerah terpencil dan miskin, dengan menjadikan "Membaktikan Diri kepada Tanah Air" sebagai praktek sesungguhnya demi kepentingan negara dan kesejahteraan rakyat.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040