huà shé tiān zú
  2009-10-24 16:45:29  CRI

huà shé tiān zú

"Draw a snake and add feet to it". Atau dalam Bahasa Indonesia dapat diartikan, "Gambar ular dan tambahkan kaki ke ular itu".

Di jaman kuno negara Chu (楚) ada seorang bangsawan, pada suatu hari setelah usai sembahyang leluhur, dia menghadiahi satu teko arak sembahyang kepada para kaki tangannya yang membantu. Para kaki tangan itu saling berunding dan mengatakan, "satu teko arak ini hanya cukup diminum satu orang, sama sekali tidak cukup diminum bersama. Bagaimana kalau kita lomba menggambar ular di tanah, siapa yang selesai menggambar duluan, siapa yang minum teko arak ini."

Dan lomba gambar ular itupun dimulai. Kemudian, ada seseorang yang terlebih dulu menyelesaikan gambar ular itu. Dia mengambil teko arak dan hendak meminumnya, namun saking bangganya, tangan kirinya menenteng teko arak itu dan tangan kanannya melanjutkan gambar ular itu. Dia berkata, "Saya dapat menambahkan beberapa kaki ke gambar ular itu." Namun, sebelum dia menyelesaikan gambar kaki ular itu, satu orang lainnya telah menyelesaikan gambar ular dan merebut teko arak itu, serta berkata, "Ular asalnya memang tidak ada kaki, kenapa kamu bisa tambahkan kaki ke gambar ular itu?" Akhirnya, orang yang menggambar kaki ular itu tidak mendapatkan teko arak.

Idiom Hua She Tian Zu ini mengumpamakan melakukan sesuatu yang berlebihan, namun efeknya semakin tidak baik atau merugikan diri sendiri. Cerita Hua She Tian Zu ini memberitahu, setiap hal yang kita lakukan seharusnya sesuai dengan kenyataan dan jangan melakukan hal-hal yang berlebihan sehingga merugikan diri sendiri.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040