Dalam Ruangan Kesehatan edisi ini akan kami perkenalkan pengontrolan flu burung pada manusia di Tiongkok.
Bulan Januari lalu, di seluruh Tiongkok dilaporkan dan didiagnosa 8 kasus flu burung pada manusia mematikan. Di seluruh dunia, sejauh ini tercatat lebih dari 200 orang yang meninggal karena kena flu burung mematikan. Pejabat Pusat Pencegahan Dan Pengontrolan Penyakit Tiongkok, Wang Yu menyatakan, dewasa ini, Tiongkok telah membentuk sistem pengontrolan flu burung pada manusia yang relatif sempurna, memperhatikan dengan seksama perkembangan wabah flu burung dan kemungkinan orang biasa terinfeksi flu burung tidak besar.
Kebanyakan warga Tiongkok sekarang telah menguasai sejumlah pengetahuan mengenai flu burung termasuk daging unggas yang dimasak matang tidak mungkin membawa virus.
Wabah sindrom pernapasan akut parah SARS yang merebak pada tahun 2003, tidak hanya menimbulkan kepanikan di Tiongkok, tapi juga di seluruh dunia. Justru karena itu, ketika terdengar kasus pertama kematian karena flu burung pada tahun itu, sempat menghebohkan masyarakat. Mereka menganggap wabah SARS berjangkit kembali, umum tidak mengkonsumsi daging unggas, apa lagi menyentuh unggas. Pejabat terkait Kementerian Kesehatan, Sun Tieying mulai tahun 2003 bergerak dalam riset terhadap perkembangan wabah flu burung pada manusia. Dalam pandangannya, adalah beralasan untuk melukiskan flu burung pada manusia itu 'menakutkan'. Dikatakannya, " Orang begitu terinfeksi wabah flu burung, angka kematiannya sangat tinggi. Pertama, kami kurang mengenal gejala flu burung, penemuannya relatif lambat. Kedua, penyakitnya memarah begitu kena, dan segera memicu radang paru-paru serta selanjutnya gagal pernapasan."
Flu burung pada manusia begitu menakutkan, mengapa sejauh ini tidak menyebar luas di Tiongkok. Mengenai hal itu, pejabat Pusat Pencegahan Dan Pengontrolan Penyakit Tiongkok, Wang Yu menjelaskan, ini berkaitan dengan kekhususan flu burung pada manusia serta langkah pengontrolan yang diambil oleh pemerintah Tiongkok.
Menurut penjelasan Wang Yu, kasus orang terinfeksi wabah flu burung disebabkan kontak erat dengan unggas sakit. Sejauh ini, wabah tersebut masih belum dapat menjalar antar manusia. Meskipun unggas sakit, kalau dagingnya dimasak matang, virusnya juga dapat dibasmi dan tidak akan merusak kesehatan manusia, maka, bagi rakyat biasa, kemungkinan terinfeksi wabah flu burung mematikan adalah tidak besar.
Walau pun flu burung pada manusia tidak merebak dalam skala besar di Tiongkok, tapi angka kematiannya sangat tinggi, ini tidak boleh diremehkan. Setelah berjangkitnya SARS tahun 2003, Tiongkok membentuk jaringan pemantauan terkait, memperhatikan dengan seksama perkembangan berbagai wabah penyakit termasuk flu burung. Wang Yu menjelaskan, " Tiongkok mulai tahun 2004 membentuk jaringan pelaporan wabah menular dan peristiwa kesehatan umum mendadak yang mencakup seluruh negeri termasuk rumah sakit dan badan pencegahan dan pengotrolan penyakit di semua kabupaten. Mereka dapat melalui internet melaporkan kasus tercurigai flu burung kepada Pusat Pengontrolan Penyakit Nasional."
Setelah menerima pelaporan kasus tercurigai flu burung pada manusia, personel terkait dan tenaga medis tepat waktu mengkoleksi sampel, selanjutnya mengadakan deteksi, analisa dan konfirmasi. Di Tiongkok yang wilayahnya luas dan populasinya banyak, dalam waktu paling cepat dapat menemukan kasus flu burung yang tercurigai, ini merupakan keberhasilan maha besar jaringan deteksi. Wang Yu mengatakan, "Karena dapat menemukan dini dan reaksinya cepat serta cara operasionalnya juga sesuai dengan tuntutan profesional, boleh dikatakan, pekerjaan terkait di Tiongkok itu adalah tarafnya paling tinggi di dunia dan juga mendapat pujian luas oleh pemerintah dan pakar luar negeri."
Mengenai flu burung pada manusia, selain melakukan dengan baik pemantauan terhadap kasus tercurigai, perlu mengedepankan pekerjaan pencegahan. Wang Yu mengatakan, " Tak peduli di pedesaan atau di kota, masyarakat harus menghindarkan kontak dengan unggas mati dan unggas sakit. Menghindarkan anak-anak berkontak dengan unggas hidup, selanjutnya menghentikan secara bertahap pemasaran unggas hidup di kota-kota."
Mengenai penelitian dan pembuatan vaksin flu burung pada manusia. Wang Yu mengatakan, " Pusat pengontrolan flu burung telah meneliti dan mengembangkan vaksin flu burung pada manusia generasi pertama, dewasa ini, semua uji coba klinik telah dirampungkan dan mulai diproduksi dan dicadangkan. Pusat tersebut juga menggalakkan penelitian terhadap virus yang terus terjadi perubahan rupa. Perubahan genetik virus yang pertama di Tiongkok akan segera memasuki tahap uji coba klinis. Setelah diselesaikannya pekerjaan itu, Tiongkok akan menjadi satu-satunya negara di dunia yang dapat merampungkan pemisahan, penentuan dan perubahan terhadap virus flu burung serta penelitian, pengembangan dan pencadangan virus flu burung. Ini juga merupakan satu sistem yang diharapkan dibentuk di seluruh dunia."
Bersamaan dengan melakukan dengan baik pengontrolan flu burung pada manusia serta penelitian dan pengembangan vaksin terkait, Tiongkok juga terus mengintensifkan kerja sama di bidang pengontrolan flu burung dengan berbagai negara di dunia, khususnya negara-negara Asia Tenggara dan negara sekitar. Tiongkok juga membagi pengalaman dan hasil penelitian di bidang tersebut dengan negara dan daerah terkait. Wang Yu mengatakan, " Tiongkok membentuk mekanisme komunikasi yang relevan dengan negara-negara Asia Tenggara termasuk Thailand dan Vietnam serta Daerah Administrasi Khusus Hong Kong. Mengadakan simposium non rutin, melakukan komunikasi dan pertukaran di bidang penelitian dan pengembangan vaksin, mekanisme diagnosis cepat dan bantuan klinik."

















