
Dalam Ruangan Kesehatan edisi ini akan kami bicarakan kepedulian terhadap sakit perut mencret.
Musim panas merupakan masa perkembangbiakan kuman-kuman di dalam saluran usus, juga merupakan musim panas rawan penyakit diare. Mengenai sakit perut mencret, gejala tersebut padahal minimal yang hampir dialami oleh setiap orang, tapi kapan harus minum obat dan minum obat apa, banyak orang sebenarnya tidak begitu jelas mengenai hal itu. Berikut uraiannya.
Seorang pengajar pendidikan jasmani bernama Li Jin, staminanya sangat baik, tapi selama sebulan ini muncul gejala yang meresahkan, yaitu dihantui penyakit diare.
Sebelumnya, Li Jin pernah kena radang usus akut yang hampir merenggut nyawanya. Maka, setelah kena sakit perut mencret, Li Jin sedikit pun tidak berani memperlakukan dengan sembrono dan segera minum obat antiradang, tapi tetap tidak sembuh biar pun telah minum obat selama dua hari. Li Jin terpaksa pergi ke rumah sakit komunitas untuk menjalani infus, dan merasa agak baikan setelah melakukan infus selama lima hari berturut-turut. Akan tetapi, di luar dugaan beberapa hari kemudian penyakitnya kambuh, sehingga berat badannya menurun 10 kilogram lebih. Ini memungkinkan Li Jin tidak yakin mengapa obat antiradang tidak dapat menyembuhkan berak-berak, dan mengapa penyakitnya hanya sembuh sebentar namun kemudian kambuh lagi.

Mengenai hal itu, Profesor Qian Jiaming dari Peking Union Medical Hospital menjelaskan, banyak orang seperti Li Jin yang berpendapat bahwa obat antiradang dapat dengan efektif mengobati murus, sebenarnya ini adalah suatu kekeliruan. Profesor Qian mengatakan, patogeni diare adalah rumit, secara garis besar dapat dibagi dua jenis, yaitu diare disebabkan faktor infeksi dan non-infeksi. Diare yang disebabkan infeksi disebut Gantroenteritis, ditimbulkan oleh baksil, virus atau parasit. Baksil yang menyebabkan mencuru umumnya adalah baksil disentri, vibrio kolera dan kuman Salmonella, virus yang menyebabkan murus termasuk virus rota, virus Norwalk, sedangkan parasit termasuk cacing skistosoma. Selain itu, orang juga dapat menderita sakit perut mencret karena masuk angin, malgizi, kelainan kelenjar endrokin, radang kelenjar ludah perut ( pankreas ), radang hati kronis dan penyakit lainnya, semuanya disebut diare non-infeksi.

Profesor Qian mengatakan, penggunaan antibiotik hanya untuk sakit berak-berak yang disebabkan oleh kuman, kebanyakan penyakit diare tidak perlu menggunakan obat antibiotik. Dikatakannya, " Tidak tentu semua diare pasti disebabkan oleh kuman, misalnya Li Jin, penyakitnya mungkin disebabkan mengkonsumsi makanan yang kadar lemaknya berlebihan dan berkaitan dengan fungsi pencernaannya. Dengan demikian penggunaan obat antibiotik tidak saja tidak dapat meringankan penyakit, tapi memungkinkan gejala mencretnya muncul masalah baru dan berubah menjadi lebih rumit, penyakitnya hanya sembuh sebentar namun kemudian kambuh lagi."
Qian Jiaming menjelaskan, dalam saluran usus manusia terdapat probiotic yang dapat mengekang kuman-kuman jelek, ditambah Li Jin sembarangan menggunakan obat antibotik yang membasmi kuman-kuman yang baik dalam saluran usus, ini menyebabkan penyakit diarenya senantiasa tidak membaik. Profesor Qian mengatakan, bagi penderita seperti Li Jin, penyakit dapat sembuh asalkan mengkonsumi preparat mikroba terkait dan memperhatikan pula makan dan minum sehari-hari.
Dapat dikatakan, tidak melalui pemastian profesional dokter dan pemeriksaan laboratorium, penderita diare sulit menjernihkan patologi mencret dan adalah sangat berbahaya kalau sembarangan menggunakan obat, diare menular juga mudah menyebarkan penyakit. Profesor Huang Ping dari RS 305 Beijing mengatakan," Kalau gejala penyakit diare tidak membaik lebih dari tiga hari, maka, penderita dianjurkan pergi ke rumah sakit untuk didiagnosa apakah menderita diare, dan menjalani pemeriksaan laboratorium, setelah mengetahui patologinya baru dapat diberi pengobatan bersasaran."

Kalau gejala murus sejumlah penderita agak ringan dan tidak berminat berobat ke dokter, pakar menjelaskan satu cara, yaitu minum 500 miligram air putih matang ditambah 10 gram gula tebu dan 1.75 gram garam. Begitu gejalanya membaik, harus segera menghentikan pengobatannya. Pakar mengingatkan pula, gejala mencret yang ringan akan sembuh sendiri dalam satu hingga dua hari, tapi kalau tidak sembuh harus berobat ke dokter.
Selain itu, kasus murus disebabkan virus rota bertambah banyak setelah memasuki musim gugur, dan kebanyakan penderita adalah anak-anak. Pakar menjelaskan, virus rota adalah sejenis virus yang sangat kuat daya hidupnya di luar tubuh, begitu memasuki bulan Oktober hingga Januari tahun depan, dalam kurun waktu ini merupakan periode puncak berjangkitnya murus yang ditimbulkan virus rota. Khususnya ialah setelah kena penyakit diare, frekuensi buang air besar anak penderita bertambah banyak, kadang-kadang sampai belasan kali sehari, bersamaan muncul gejala demam dan muntah, penyakitnya yang berat mudah muncul gejala dehidrasi bahkan menimbulkan komplikasi radang otot jantung bervirus dan radang otak bervirus.
Sejauh ini, selain vaksinasi untuk mengobati tidak ada lagi obat anti virus rota yang ideal, metode utama pengobatan klinis yalah memelihara keseimbangan air dan dielektrik dengan sifat asam dan sifat alkali. Maka, kalau seorang anak terinfeksi virus rota perlu segera berobat ke dokter, mencegah timbulnya dehidrasi dan komplikasi.
Sehubungan dengan kini masih belum terdapat obat manjur untuk mengobati sakit perut mencret gara-gara virus rota, langkah pencegahan adalah sangat perlu. Pakar Zhang Jing dari Pusat Pencegahan Dan Pengontrolan Penyakit Tiongkok mengatakan," Kalau hendak mencegah terjadinya penyakit mencret, pertama-tama harus memenuhi persyaratan sanitasi. Khususnya, ketika orangtua merawat anaknya perlu rajin mencuci tangan. Ventilasi kamar harus dijaga dengan baik, selanjutnya sanitasi lingkungan rumah, lantai dan kakus juga perlu diperhatikan."

















