Kelompok Pijat Tunanetra Mengbadi kepada Paralimpik
  2009-07-10 09:16:12  cri

Dalam Ruangan Kesehatan edisi ini akan kami perkenalkan beberapa tukang pijat tunanetra yang mengabdi kepada Olimpiade Beijing dan Paralimpik.

Seiring dengan ditutupnya Olimpiade Musim Panas ke-29 dengan sukses, Beijing pada tanggal 6 September, 2008 menyelenggarakan Paralimpik ke-13 yang diikuti 4.000 atlet penyandang cacat, 2.500 pelatih dan wasit serta 4 ribu wartawan dari 148 negara dan daerah. Untuk menjamin kelancaran Paralimpik, dikerahkan sekitar 44.000 relawan Paralimpik, termasuk sebuah kelompok khusus yaitu tukang pijat tunanetra.

Di Klinik Komprehensif Paralimpik, sekitar 60 tukang pijat menyediakan pelayanan pijat kedokteran tradisional Tiongkok kepada atlet, pejabat, wartawan dan pengunjung mancanegara. Di antara mereka terdapat 10 tukang pijat tunanetra. Lu Xin, Chen Huiying dan Wang Yanju adalah 3 orang di antaranya. Lu Xin mengatakan kepada wartawan, "Pijat kedokteran tradisional Tiongkok adalah sebuah profesi yang tradisional dan berkepribadian Tiongkok. Ilmu kedokteran tradisional Tiongkok sangat misterius dan tidak menunjukkan efek samping. Melalui pijat titik tekan terhadap sejumlah titik akupungtur dapat mengendurkan otot dan tulang sendi, merangsang peredaran darah bahkan mengobati penyakit. Sebagai tukang pijat tunanetra, saya merasa sangat bangga dapat menjadi relawan untuk memanifestasikan kepada dunia ilmu kedokteran tradisional Tiongkok dan pijat kedokteran tradisional.

Lu Xin berasal dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei. Pada usia 19 tahun, ketika ia duduk di semester pertama perguruan tinggi, karena variasi genetika pada masa pubertas yang mengakibatkan degenerasi pada pigmen retina, kehidupannya mengalami perubahan yang sangat besar. Lu Xin yang semulanya kuliah di jurusan ilmu kedokteran Barat terpaksa belajar terapi teknik pijat. Berkurangnya penglihatan tidak menghalangi dia terus berjuang dalam kegelapan.

Direktur Pusat Pengarahan Tukang Pijat Tunanetra Kota Beijing, Wang Changhan mengatakan kepada wartawan, selama persiapan Olimpiade dan Paralimpik Beijing, Panitia Penyelenggara Olimpiade Beijing BOCOG mengharapkan sejumlah tukang pijat tunanetra dapat bekerja di Perkampungan Atlet dan mengabdi kepada Olimpiade dan Paralimpik bersama dengan relawan dari Universitas Ilmu Kedokteran. Ketika itu, sekitar 500 orang tunanetra mendaftarkan diri. Berdasarkan tuntutan BOCOG, Pusat Pengarahan Tukang Pijat Tunanetra Kota Beijing menseleksi dan merekomendasi 20 orang dan akhirnya 10 orang direkrut oleh BOCOG. Wang Changhan mengatakan, mereka karena badannya cacat, maka, menemukan sejumlah kesulitan dalam belajar, melamar pekerjaan dan berkomunikasi, tapi berkat bantuan berbagai kalangan masyarakat, mereka dapat hidup normal dan bekerja dengan senang. Ia dengan sangat bangga memuji para tukang pijat yang muda. Wang Changhan mengatakan, " Tunanetra generasi baru adalah orang muda yang menerima pendidikan dan dinamis. Sama seperti kami orang yang sehat, mereka ingin menyumbangkan kecerdasan mereka kepada masyarakat."

Tukang pijat tunanetra yang bekerja di klinik Kampung Paralimpik semuanya orang muda. Chen Huiying, warga kota Beijing tahun ini berumur 26 tahun. Matanya sudah kabur untuk melihat segalanya karena menderita penyakit mata. Setahun yang lalu, ia wisuda dari Special Education College of Beijing Union University, kemudian bekerja di Rumah Sakit Pijat Beijing, ia merasa sangat beruntung dan bahagia. Ketika BOCOG menetapkan untuk merekrut sejumlah tukang pijat tunanetra, Chen Huiying segera mendaftarkan diri. Identitas penyandang cacat tidak memungkinkan Chen Huiying mendapat perhatian yang khusus, sama dengan relawan Olimpiade dan Paralimpik lainnya, perlu mengalami seleksi yang ketat. Ini juga memungkinkan Chen Huiying lebih percaya diri. Dikatakannya, " Para relawan sebelum direkrut harus mengikuti temuduga dan ujian mengenai pengetahuan dasar. Terlebih dahulu pengetahuan mengenai Olimpiade, dan perlu juga menguasai bahasa asing sehingga dapat memudahkan komunikasi dengan orang asing, semuanya itu harus diadakan latihan dan persiapan yang memadai sebelumnya."

Karena memiliki dasar bahasa asing yang cukup baik, Chen Huiying diatur bekerja di Kampung Paralimpik. Ia dapat langsung berkontak dengan para atlet, pejabat dan wartawan mancanegara. Ketika sedang memijat, Chen Huiying dapat dengan tepat memperkenalkan berbagai pengetahuan tentang pijat kedokteran tradisional Tiongkok dan mempromosi ilmu kedokteran tradisional Tiongkok.

Tukang pijat tunanetra yang bekerja sebagai relawan semuanya bisa berkomunikasi dengan tamu asing dalam bahasa Inggeris. Banyak di antara mereka belajar sendiri bahasa Inggeris. Seorang tukang pijat tunanetra bernama Wang Yanju mengatakan bahwa selama penyelenggaraan Paralimpik, pekerjaan mereka digilir dan setiap hari diatur dua orang mengadakan pelayanan di Perkampungan Atlet Paralimpik. Walaupun bahasa Inggerisnya tidak begitu fasih seperti Chen Huiying, tapi ia bersama Lu Xin dengan tulus hati menyambut kedatangan sahabat dari segala pelosok dunia ke Paralimpik.

"Mudah-mudahkan pelayanan kami bermanfaat bagi kesehatan anda. Semoga anda merasa senang dan meninggalkan kesan baik di Beijing." Demikian kata Wang Yanju dan Lu Xin dalam bahasa Inggeris.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040