Sandal Jepit Lebih 'Negatif' Daripada Sepatu Bertumit Tinggi
  2009-07-10 09:16:12  cri

Dalam Ruangan Kesehatan untuk edisi ini akan kami bicarakan kenegatifan penggunaan sandal jepit.

Mengenai 'bahayanya' sepatu bertumit tinggi terhadap kaki kaum wanita telah menjadi kesepahaman seluruh dunia, tapi umum kurang mempunyai kewaspadaan terhadap sandal jepit yang latarnya rata. Cara mengenakan sandal jepit yang unik mungkin lebih 'fatal' daripada memakai sepatu bertumit tinggi. Biarpun di pantai pasir, juga tidak dianjurkan untuk memakai sandal jepit terlalu lama.

Pada musim panas, Anda mungkin sempat menemukan gadis cantik mengenakan gaun ketat berbahan sutra dan sandal jepit yang bertatahkan fashion jewelry, mereka berbelanja atau masuk keluar pusat perbelanjaan yang mewah. Sejumlah perusahaan sandal yang terkenal dengan sengaja memproduksi sandal jepit yang bertatahkan fashion jewelry. Ini memungkinkan sandal sejenis cocok digunakan untuk berjalan-jalan di pantai pasir, warung-warung makanan di pinggir jalan, pusat perbelanjaan yang mewah dan restoran. Mengenai kecenderungan itu, Profesor Muda Jurusan Biomekanika Universitas Auburn Amerika Serikat, Wendi Weime mempunyai pandangan yang berbeda dan menyatakan sandal jepit pada pokoknya tidak cocok dipakai sehari suntuk. Sering mengenakan sandal jepit dapat mengakibatkan rasa nyeri dan radang di banyak bagian dari kaki hingga sendi tulang pangkal paha.

Sandal jepit lebih 'fatal' daripada sepatu bertumit tinggi.

Periset Universitas Auburn menemukan, cara pemakaian sandal jepit mungkin 'lebih fatal' daripada penggunaan sepatu bertumit tinggi.

Usai berakhirnya liburan musim panas, jumlah siswa bertambah banyak yang berobat ke dokter karena merasa sakit di bagian tungkai dan kakinya. Gejala tersebut mengundang perhatian Profesor Muda Wendi Weimer. Ia menemukan kebanyakan siswa yang menderita nyeri pada tungkai dan kakinya itu disebabkan sering memakai sandal jepit selama liburan, begitu masuk sekolah pada musim gugur, tungkai dan kakinya merasa tidak enak ketika mengenakan sepatu kulit atau sepatu olahraga.

Dengan dipimpin oleh Wendi Weimer, siswa jurusan biomekanika membentuk tim riset disiplin mengenai sandal jepit. Tim tersebut merekrut 39 relawan wanita dan pria yang usianya sekitar 19 hingga 25 tahun.

Dalam uji coba, para relawan akan secara terpisah berjalan-jalan dengan memakai sepatu lari atau sandal jepit, sedangkan di bagian-bagian punggung, sendi tulang pangkal paha, betis, sendi buku kaki dipasang induktor. Data-data daya tahan vertikal bagian kaki diambil dari sentuhan sekejab antara telapak kaki dengan platform serta gerak gerik apa pun dari bagian terkait kaki ketika berjalan.

Laporan uji coba menunjukkan, ketika memakai sandal jepit, langkahnya lebih pendek. Ini disebabkan bagian terkait badan perlu menopang lebih banyak tekanan pada jarak yang sama serta otot dan sendi lebih banyak mengalami pengausan.

Ketika memakai sandal jepit dan khawatir copot, orang secara tidak sadar menekukkan jari kaki untuk menahan alas sandal. Dengan demikian tidak dapat mengangkat tinggi jari kaki, sehingga langkahnya lebih pendek dibandingkan ketika memakai sepatu lari.

Perubahan jauh dekatnya langkah menyebabkan serangkaian perubahan rantai gerak badan. Ini dimulai dari alas kaki, sendi buku kaki, betis, tumit, tulang pangkal paha, punggung sehingga seluruh badan.

Gerakan menekukkan jari kaki berlebihan dapat memicu radang pada alas kaki dan tumit belakang bahkan rasa nyeri di sendi tulang pangkal paha dan punggung.

Melalui kesimpulan tersebut, pakar mengatakan, uji coba bukannya mengusulkan umum jangan memakai sandal jepit untuk selamanya, tapi tidak boleh memakai sandal jepit berjalan luntang lantung sehari suntuk. Sama dengan sepatu lari paling baik dapat mengganti sandal jepit dalam 3 hingga 4 bulan.

Ketika kami berjalan kaki, otot betis mengerut, tendon achille menarik tumit belakang dan menjauhi tanah. Dan ketika memakai sandal jepit, perlu menggunakan lebih banyak kekuatan untuk mengangkat tumit, ini mengakibatkan penggunaan lebih banyak tendon achilles sehingga mudah memicu radang tendon achilles.

Kelompok rawan pengguna sandal jepit.

1. Bintang film yang dikuntit paparazzi. Begitu ke luar rumah, ke mana saja bintang film atau bintang sepak bola segera dikuntit paparazzai. Maka, orang yang perlu berjalan cepat tidak cocok menggunakan sandal jepit, tapi bintang terkenal kebanyakan suka memakai sandal jepit, boleh dikatakan sebagai juru bicara perusahaan sandal jepit. Mereka tak peduli hawa panas atau hawa dingin tidak akan melepaskan sandal jepit, sehingga bagian-bagian sendi buku kaki, betis, lutut, tulang pangkal paha dan punggung selalu menjadi noda hitam kesehatan.

2. Wanita hamil atau orang yang berat badannya berlebihan. Orang yang berat badannya berlebihan membutuhkan sepatu untuk menopangnya, sehingga memberi tekanan tertentu pada bagian kaki, pergelangan kaki dan belakang punggung. Sandal jepit akan memperparah bagian tersebut dan mendatangkan lebih banyak 'perusakan' pada bagian tersebut.

3. Orang yang mudah mengempaskan sepatu. Orang yang berjalan-jalan pada hawa panas dan memakai sandal jepit, kadang-kadang mudah mengempaskan sandal kiri atau sandal kanan. Sebenarnya sepatu sandal juga mudah diempaskan, untuk menjamin tidak terempas sandalnya, maka, harus menjepit sekuat-kuatnya, penambahan tenaga itu mudah melukai bagian tendon achilles, maka, orang yang mudah mengempaskan sandal atau sepatu, tidak cocok memakai sandal jepit.

4. Tokoh yang perlu memperhatikan sendiri kondisi kakinya. Seperti pesepakbola Critiano Ronaldo atau pebasket Yao Ming, atlet-atlet yang banyak menggunakan kakinya untuk berlaga di arena pertandingan, mereka paling baik jangan memakai sandal jepit, karena mempunyai kesempatan besar jatuh terkilir.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040