Dalam Ruangan Kesehatan edisi ini akan kami bicarakan perayaan Pecun dan bacang.
Pecun adalah hari raya tradisional bangsa Tionghoa yang jatuh pada setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Mulai tahun ini, pemerintah Tiongkok menetapkan Pecun sebagai hari libur nasional. Pada festival ini, masyarakat Tionghoa mempunyai kebiasaan makan bacang, menancapkan seikat daun Artemisia di depan pintu, dan menggantungkan kantong kecil yang diisi ramuan wewangian di leher anak kecil. Pakar menunjukkan, adat istiadat yang telah bersejarah lama itu tidak saja mempunyai konotasi kebudayaan yang kental, tapi juga menguntungkan bagi kesehatan.
Bahan utama untuk membuat bacang kebanyakan dari beras ketan atau beras pulut. Ketan viskositasnya tinggi setelah matang tapi rendah pemuaiannya. Umumnya bahan pembuat bacang terdiri dari campuran ketan dan beras pulut lainnya, sehingga komposisi gizinya hampir sama pada pokoknya.
Isi bacang baik berupa daging-dagingan maupun sayur-sayuran, semuanya mempunyai nilai gizi tertentu. Bacang mengandung kalori tinggi, merupakan makanan ideal baik untuk mengenyangkan perut maupun menyehatkan badan.
Jaman sekarang kebanyakan menggunakan daun bambu dan daun teratai untuk membungkus bacang, daun tersebut merupakan tumbuhan alami yang bermanfaat bagi kesehatan manusia. Sebagai obat tradisional Tiongkok, daun-daunan itu mempunyai banyak fungsi termasuk menghilangkan demam, menghilangkan panas dalam, menguatkan lambung, menawarkan racun, memperlancar air kemih dan membantu pencernaan, dapat mengurangi viskositas bacang dan membantu penyerapan komposisi gizi bacang. Maka, bacang tidak saja menjadi simbol makanan pada hari raya Pecun, juga menjadi pilihan makanan sehari-hari umum.
Festival Pecun pada jaman dahulu, warga Tiongkok mempunyai kebiasaan untuk menancapkan ikatan daun Artemisia di atas sela-sela pintu setiap rumah. Keadaan itu kini hanya tampak di pedesaan yang luas, di kota, apalagi bagi penghuni apartemen, sudah jarang menancapkan daun tersebut, karena daun kering Artemisia mudah mengotori lingkungan di sekitarnya. Artemisia tumbuh paling subur ketika itu, bau wangi daun Artemisia yang semerbak itu mengandung zat pembunuh kuman dan mengusir nyamuk. Penelitian menemukan, mengasap daun Artemisia dapat membasmi bakteri termasuk staphylococcus aureus, beta hemolytic streptococcus dan colibacillus. Selain itu, daun Artemisia mempunyai fungsi mengatur aliran energi vital dan menghilangkan gangguan terhadapnya, menghilangkan kelembaban badan, menghangatkan meridian ( jing ) dan menghentikan pendarahan.
Sejak jaman dahulu, orang Tiongkok mempunyai tradisi menggantungkan kantong kecil yang diisi ramuan wewangian di leher anak kecil. Obat tradisional Tiongkok yang dimasukkan dalam kantong ialah heracleum, atractylodes, acorus calamas, cengkeh, daun poko, daun perilla, aruda dan lainnya. Sehingga ramuan itu dapat menghilangkan kelembaban, mengusir kutu dan menyemangatkan badan.
Apa yang harus diperhatikan ketika mengkonsumsi bacang.
Bacang karena bahannya dari ketan, viskositasnya tinggi maka tidak mudah dicerna, ditambah serabut proteinnya kurang dan mengandung banyak lemak, garam dan gula. Satu bacang mengandung sekitar 400-500 kalori. Pakar mengusulkan, kaum wanita paling baik mengkonsumsi tidak lebih dari 3 biji bacang sehari, sedangkan kaum pria mengkonsumsi tidak melampaui 5 biji. Ketika makan bacang hendaknya mengkonsumsi sayur-mayur dan buah-buahan juga, semuanya ini dapat membantu pencernaan. Selain itu, paling baik jangan mengkonsumsi bacang dua jam sebelum tidur, serta jangan makan buah-buahan yang bersifat dingin seperti semangka agar tidak mengakibatkan mencret atau sakit perut.
Kelompok apa jangan mengkonsumsi bacang.
Penderita penyakit pembuluh darah jantung:
Jenis bacang sangat banyak, di antaranya bacang lemaknya banyak. Begitu penderita tekanan darah tinggi, lemak darah tinggi dan penyakit jantung koroner banyak makan bacang, dapat menambah kekentalan darah, mempengaruhi sirkulasi darah, memperberat beban jantung dan ischemik yang dapat memicu angina pektoris dan infark otot jantung.
Orang lanjut usia dan anak-anak:
Karena bacang bahannya dari ketan yang viskositasnya tinggi, orang tua dan anak-anak kalau berlebihan mengkonsumsi bacang, amat mudah mengakibatkan gejala salah cerna serta efek sampingnya.
Penderita penyakit saluran lambung dan usus:
Bacang dapat mengeluarkan sejenis materi setelah dimasak matang, dan dapat menambah beban fermen cerna setelah dimakan.
Penderita kencing manis:
Kuecang karena diisi angco atau kurma cina dan lumatan kacang, kadar gulanya sangat tinggi. Waktu dikonsumsi kadang-kadang juga dicocol gula pasir. Kalau penderita sejenis tidak dapat mengontrol mulutnya, akhirnya dapat merusakkan fungsi insulin yang memicu naiknya dengan cepat gula darah dan glukosa dalam air kemih, memperberat penyakitnya, bahkan dapat mengakibatkan pingsan dan keracunan.

















