Para sarjana menemukan, seiring dengan semakin drastisnya perubahan iklim global, naiknya suhu udara dan curah hujan menurun, dampak penyebaran wabah malaria di benua Afrika lebih serius dan tugas pencegahan dan pengobatannya lebih berat.
Penyakit malaria merupakan penyakit menular yang disebabkan parasit plasmodium. Seiring dengan berkembangnya ekonomi, membaiknya lingkungan tempat tinggal dan kondisi kesehatan masyarakat, boleh dikatakan banyak negara bebas dari wabah penyakit malaria. Sejauh ini, penyakit tersebut terutama menyebar luas di bagian tengah Afrika, Asia Selatan, Asia Tenggara serta daerah tropis bagian utara Amerika Selatan, dan yang paling serius di Afrika, selain kondisi yang cocok untuk berkembangbiaknya nyamuk, banyak warga Afrika masih hidup dalam kemiskinan, mereka tidak memperoleh pengobatan tepat waktu ketika menderita sakit serta unsur yang tidak dapat diremehkan, yaitu tipis kesadarannya dalam menjaga kesehatan diri sendiri.
Data statistik Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, setiap tahun dilaporkan 350 juta hingga 500 juta kasus malaria di seluruh dunia, sedangkan 90 persen ke atas kasus kematian terjadi bagian selatan Sahara Afrika, dan jumlah orang yang meninggal di sana mencapai satu juta lebih setiap tahun. Nigeria yang populasinya terbanyak di Afrika merupakan negara rawan malaria.
Bagaimana dengan efektif mengontrol dan mengobati penyakit malaria senantiasa merupakan titik berat pekerjaan lembaga kesehatan banyak negara, tidak sedikit negara mengambil langkah termasuk mendirikan pusat pengontrolan malaria, mempromosi obat anti malaria yang murah dan memeratakan penggunaan kelambu. WHO dalam laporannya mengenai penyakit malaria global tahun 2009 menunjukkan, dana yang digunakan untuk mengobati malaria tahun ini mencapai 1,7 miliar dolar AS.
Selama beberapa tahun ini, perubahan iklim global telah mengajukan tantangan baru bagi pengontrolan penyakit malaria. Dalam Konperensi Kopenhagen di Denmark mengenai iklim global akhir tahun 2009, pejabat WHO menunjukkan, penyakit malaria dan mencret dan penyakit lainya sangat peka terhadap perubahan suhu udara dan curah hujan, perubahan iklim telah memacu penyebaran wabah penyakit. Dengan Zimbabwe sebagai contohnya, dewasa ini, separuh wilayah negara tersebut tergolong daerah rawan malaria, kalau suhu udara terus naik, sampai tahun 2050, seluruh negeri tersebut akan menjadi daerah rawan malaria. Suatu prediksi badan riset menunjukkan, kalau perubahan iklim tidak dapat dikekang, sampai tahun 2030, di kontinen Afrika akan terdapat risiko 170 juta orang mengidap penyakit malaria.
Entomolog Nigeria, Yayo Abdulsalam menunjukkan, seiring dengan naiknya suhu udara, berkurangnya curah hujan, areal padang pasir Sahara berkemungkinan akan terus meluas, ini akan mempengaruhi penyebaran habitat nyamuk, daerah dan frekuensi berjangkitnya wabah malaria juga akan mengalami perubahan baru, sehingga daerah yang relatif ringan penyebaran epidemi mungkin akan menjadi daerah rawan.
Pakar menunjukkan, demi perkembangan kesehatan umum manusia, pemecahan masalah perubahan iklim semakin urgen. Dalam Konferensi Kopenhagen, umum telah menyadari dampak perubahan iklim terhadap Afrika dan menyatakan dukungan terhadap benua tersebut. Demi kesehatan penduduk Afrika yang luas, umum mengharapkan para wakil negara maju ke konferensi dapat dengan aksi riil melakukan upaya sebagaimana semestinya dalam menanggulangi perubahan iklim global.

















