Dalam final Snooker China Open tahun 2010 yang diadakan hari Minggu lalu, pebiliar Tiongkok Ding Junhui gagal meraih gelar juara dengan dikalahkan pebiliar favorit Wales Mark Williams dengan skor 6:10. Selama turnamen China Open kali ini, Ding Junhui kebetulan melewatkan hari ulangtahunnya yang ke-23. Meskipun ia pada akhirnya gagal memenangkan gelar juara untuk merayakan hari ulangtahunnya, tapi semua penggemarnya dengan gembira menemukan bahwa Ding Junhui telah memperoleh hadiah yang lebih baik daripada piring emas. Dalam acara tetap Ruangan Olahraga kali ini akan kami sampaikan hasil wawancara wartawan kami.
Seiring dengan sodotan jitu terakhir Mark Williams, Snooker China Open 2010 juga berakhir. Mark Williams berhasil keluar sebagai juara Snooker China Open 2010 setelah menaklukkan pebiliar Tiongkok Ding Junhui dalam final dengan skor 10:6. Ding Junhui dengan tersenyum mengatakan kepada wartawan,
"Penampilan saya dalam turnamen kali ini pada umumnya baik. Walaupun kadang-kadang baik dan kadang-kadang kurang baik, saya selalu memeras otak dan kali ini berhasil mengumpulkan banyak pengalaman. Saya pasti akan berupaya mencapai prestasi yang lebih baik dalam pertandingan ke depan."
Meskipun kalah dalam final, siapapun tidak dapat menyangkal penampilan luarbiasa Ding Junhui dalam turnamen kali ini. Penampilannya merupakan salahsatu titik terang dalam turnamen kali ini. Selain itu, dengan angka yang dikumpulkannya dalam turnamen kali ini, ia juga menjadi pemain snooker yang paling banyak angkanya dalam musim pertandingan kali ini. Meninjau kembali seluruh musim pertandingan tahunan 2009/2010, Ding Junhui 3 kali berhasil masuk ke babak final. 3 kali masuk ke babak final dalam semua 6 pos seluruh musim pertandingan hanya pernah direalisasi oleh pebiliar terkenal dunia John Higgins pada musim pertandingan 2005/2006. Pantasan Mark Williams setelah meraih gelar juara tetap terus memuji Ding Junhui. Ia mengatakan,
"Kalau Ding Junhui terus maju dengan taraf begitu, ia kemungkinan besar akan meraih gelar juara dunia dalam Kejuaraan Dunia. Selain Hinggins dan Ronnie O'Sullivan, kini Ding Junhui paling mengundang sorotan perhatian umum."
Dalam final Wimbley Masters tahun 2007, Ding Junhui dikalahkan oleh O'Sullivan dengan 3:10, ia sangat emosional dan mencucurkan air mata di lapangan. Setelah itu, Ding Junhui terjerumus dalam lembah selama 3 tahun. Ia selalu tampil kurang baik pada saat krusial dan stres. Ding Junhui yang berumur 20 tahun ketika itu sulit mengemban beban berat. Akan tetapi, justru penggemblengan selama beberapa tahun ini memungkinkan Ding Junhui cepat tumbuh dan keluar dari sirkulasi buruk meragukan diri sendiri. Dalam seluruh musim pertandingan 2009/2010, ia selalu tampil sangat matang dan cerdas.
Tanggal 1 April 2010 adalah hari ulang tahun Ding Junhui yang ke-23. Ia bersama dengan para wartawan melewatkan sebuah hari ulangtahun yang sederhana tapi unik di ruang jumpa pers.Di hadapan para wartawan bukan muka yang penuh jerawat, tapi muka yang berjanggut. Ding Junhui telah tumbuh dari seorang "anak cilik yang berbakat" menjadi seorang "lelaki yang sejati". Waktu memberikan Ding Junhui hadiah ulangtahun yang terbaik. Ding Junhui yang matang berarti ia mempunyai lebih banyak pengalaman, tehnik yang lebih stabil dan ketenangan yang santai. Ding Junhui berterus terang,
"Perubahan penting ialah ia sekarang lebih berkonsentrasi, kemudian jalan pemikiran juga menjadi lebih jelas, dan selalu dengan memanfaatkan sebuah kesempatan mempertimbangkan dan menganalisa seluruh situasinya."
Ding Wenjun, ayah Ding Junhui sama sekali tidak stres karena anaknya gagal meraih gelar juara di kandang sendiri. Ia mengatakan kepada wartawan, ia sangat puas atas kondisi anaknya sekarang ini, tapi ia terus mengingatkan Ding Junhui bahwa prestasi sekarang bukanlah titik finis. Ia mengatakan,
"Ia kini masih berada pada masa pertumbuhan dan tetap perlu menjadi matang dan disempurnakan terus. Dua sampai tiga tahun lagi, ia akan mencapai taraf seperti masa jaya Hinggins dan Hendry."

















