(oleh Nandang Karyadi Putra dari Radio Elshinta)
Masjid Najiahu
"Assalammu'alaikum wr wb, selamat datang, silahkan masuk," demikian sambutan hangat para ulama dan santri masjid Najiahu kepada rombongan wartawan Indonesia dan Malaysia yang baru tiba di pintu gerbang Masjid. Mereka semuanya mengenakan baju dan celana panjang hitam serta kopiah putih. Senyuman ramah serta jenggot panjang tampaknya sudah menjadi ciri khas orang etnik Hui, penduduk mayoritas di propinsi Ningxia, China.
Masjid Najiahu tampak tinggi, megah dan anggun, dibangun di atas tanah seluas 9 ribu meter persegi dan berdiri kokoh meski sudah berumur ratusan tahun. Masjid ini memiliki sejarah panjang dan menjadi saksi perkembangan agama Islam etnik Hui di propinsi Ningxia, salah satu propinsi dengan penduduk mayoritas Muslim selain propinsi Xinjiang di negara China. Mesjid ini berada diurutan ke 5 mesjid terbesar di China dan menduduki urutan ke 46 mesjid terbesar yang ada di seluruh dunia. Nuansa arsitektur China masih tampak pada bagian atap masjid yakni bersusun tiga yang bagian tepinya melengkung ke atas. Dibangun pada masa dinasti Ming pada tahun 1524. Masjid ini dikelilingi pagar tembok tinggi dengan pintu gerbang besar seperti benteng. Di halaman dalam terdapat 2 bangunan Masjid yang memperlihatkan perpaduan arsitektur China dan Arab dihiasi kaligrafi dibagian dinding dan pilarnya. Keberadaan 2 bangunan Masjid adalah untuk memisahkan jamaah perempuan dan laki-laki saat menunaikan sholat Idul Fithri maupun sholat Idul Adha. Masjid ini menjadi tempat etnik Hui belajar agama, sedikitnya 200 orang Hui belajar setiap tahunnya.
Pemerintah China serius dan memberikan perhatian khusus terhadap 2 propinsi yang mayoritas penduduknya memeluk agama Islam hidup berdampingan dengan sekitar 36-50 etnik lainnya yang beragama Kristen, Budha dan Katolik. Ke-2 propinsi ini diberikan status otonom disertai kewenangan untuk mengembangkan daerahnya sesuai dengan budaya dan agama yang ada. Pemerintah pusat juga memberikan dukungan dana dan kebijakan agar kedua propinsi tersebut dapat berkembang merata secara ekonomi dengan propinsi lainnya dan menjaga hubungan antar etnik di kedua propinsi tersebut tetap harmonis. "Pemerintah pusat China berkomitmen membantu, membangun, mengenalkan dan menjaga kepentingan umat Muslim dan melestarikan bangunan bersejarah umat Muslim untuk dikembangkan dibidang pariwisata, " ungkap Wakil Kepala Komisi Agama Daerah Otonom Etnis Hui, Ningxia, Li Wenming kepada para wartawan Minggu 6/11/2011.
Taman Budaya Etnik Hui
Masjid Najiahu hanya salah satu dari sekian banyak tempat bersejarah agama Islam etnik Hui di propinsi Ningxia yang terus dijaga kelestariannya. Pemerintah China juga membangun museum Taman Budaya etnik Hui yang lokasinya tidak jauh dari kota Yinchuan. Lagi-lagi kami dibuat terpesona dengan kemegahan museum ini. Di atas lahan seluas 7 ribu meter persegi bangunan mirip Taj Mahal, India didirikan. Terdapat ratusan diorama yang menceritakan pertama kali ajaran agama Islam masuk ke propinsi ini melalui hubungan perdagangan dengan Negara-negara Timur Tengah sekitar abad ke 14. Di halaman belakang terdapat mesjid besar dan mewah dengan kubah emas yang didirikan untuk kepentingan pariwisata. Pemerintah China mengeluarkan dana tidak kurang 70 juta Yuan untuk membangun masjid ini dalam kurun waktu 2001-2005 sekaligus memperingati hari jadi ke propinsi Ningxia sebagai propinsi otonom.
Tak terasa hari semakin malam hujan gerimis belum juga berhenti. Udara semakin dingin. Bulan November adalah awal datangnya musim dingin, suhu berkisar antara 0-6 derajat Celcius. Kami pun harus kembali ke hotel karena esok pagi akan menunaikan ibadah sholat Id bersama umat Muslim di kota Wuzhong, sekitar 1 jam dari kota Yinchuan. Gema Takbir kami kumandangkan dalam hati menyambut datangnya Idul Adha meski jauh dari sanak saudara di tanah air yang sudah merayakannya hari ini.