Perkenalan tentang CRISiaran Bahasa Indonesia
China Radio International
Berita Tentang TK
Berita Internasional
Fokus Ekonomi TK
Kehidupan Sosial
Olahraga
Serba-serbi

KTT ASEAN

Kunjungan Hu Jintao Ke Lima Negara Asia dan Afrika

Kunjungan Jurnalis CRI ke Guangdong

Hu Jintao Hadiri KTT G-20 dan APEC serta Lawat ke 4 Negara

Olimpiade Beijing Tahun 2008
Indeks>>
(GMT+08:00) 2005-04-14 15:33:44    
Sinar Cemerlang Abadi Semangat Konferensi Asia Afrika - tulisan Kong Yuanzhi dan Yang Kangshan

cri

Tahun ini adalah genap 50 tahun diselenggarakannya Konferensi Asia Afrika. Kami sempat berkali-kali ke Bandung dan meninjau gedung Merdeka , tempat Konferensi Asia Afrika. Ia telah meninggalkan kesan yang tak terlupakan kepada kami.

Dasa Sila Konferensi Asia Afrika

Gedung Merdeka, tempat Konferensi Asia Afrika, adalah sebuah gedung berwarna putih, tampak lebih anggun dan megah di bawah belaian lembut sinar mata hari. Di situlah diselenggarakan Konferensi Asia Afrika atau Konferensi Bandung yang terkenal di dunia dari tanggal 18 sampai 24 April tahun 1955.

Begitu memasuki ruang gedung tersebut terbentanglah dihadapan mata bendera nasional 29 negara peserta Konferensi Bandung ketika itu di podium. Menurut perkenalan petugas dari pihak Indonesia, banyak tamu mancanegara datang meninjau gedung Merdeka, yang kemudian disebut sebagai Gedung Konferensi Asia Afrika. Jalan raya di depan gedung itu juga diganti nama menjadi jalan Asia Afrika. Dalam rangka perayaan genap 25 tahun Konferensi Bandung pada tanggal 24 April tahun 1980, Presiden Indonesia ketika itu Suharto memimpin sendiri upacara pembukaan Gedung Peringatan Konferensi Asia Afrika. Dalam gedung yang telah direnovasi total itu diperagakan benda-benda asli yang pernah digunakan dalam Konferensi Asia Afrika ketika itu.

Berada di ruang konferensi yang khidmat ini, kami merasa sangat terharu. Di sinilah 50 tahun lalu telah diadakan konferensi internasional pertama dalam sejarah yang sepenuhnya dipimpin dan diikuti oleh negara-negara Asia dan Afrika untuk membahas masalah-masalah kepentingan vital rakyat Asia Afrika. Perdana Menteri Tiongkok ketika itu Zhou Enlai memimpin delegasi pemerintah Tiongkok menghadiri konferensi tersebut. Konferensi telah membahas masalah nasionalis dan perjuangan antikolonialisme, perdamaian dan kerja sama dunia, serta kerjasama antar negara peserta di bidang ekonomi dan kebudayaan. Konferensi berakhir dengan meluluskan Deklarasi Mendorong Perdamaian Dan Kerjasama Dunia dalam mana dikemukakan dasa sila hidup berdampingan secara damai antar negara, yakni Dasa Sila Konferensi Asia Afrika atau Dasa Sela Bandung yang terkenal.

Pada dinding ruang pameran di sisi ruang sidang terukir isi konkret Dasa Sila Bandung yang berbunyi: a) menghormati Hak Azasi Manusia, menghormati azas tujuan dan prinsip piagam PBB; b) menghormati kedaulatan dan keutuhan wilayah semua negara; c) mengakui semua etnis sama derajat, semua negara baik besar maupun kecil adalah sama derajat; d) tidak mengintefensi urusan dalam negeri negara lain; e) menghormati hak setiap negara untuk melakukan bela diri baik secara sendiri-sendiri atau kolektif berdasarkan piagam PBB; f) tidak mengabdi pada kepentingan khusus negara besar mana pun dengan pengaturan pertahanan kolektif, tidak memberikan tekanan kepada negara lain; g) tidak melanggar keutuhan wilayah atau kemerdekaan politik negara mana pun dengan tindakan agresi atau ancaman agresi, atau kekuatan bersenjata; h) menurut Piagam PBB menyelesaikan segala persengketaan internasional dengan cara-cara damai antara lain perundingan, penengahan, arbitrasi atau penyelesaian hukum ; i) mendorong saling menguntungkan dan kerjasama; j) menghormati keadilan kewajiban internasional.

Di antara foto-foto para ketua delegasi negara peserta, foto pertemuan Perdana Menteri Zhou Enlai dengan Presiden Mesir Naser sangat menarik perhatian kami. Kami segera berebutan untuk diabadikan di samping foto tersebut.

Di ruang pameran diperagakan pula mesin tik, alat pemancar dan kamera film yang pernah digunakan dalam konferensi saat itu, walaupun perlengkapan-perlengkapan itu jauh terbelakang yang ada sekarang, tapi mereka dari satu sisi telah mencerminkan semangat rakyat Asia Afrika yang senasib sepenanggungan dan berjuang dengan bersatu padu.


1  2  3  4