Pembangunan Karbon Rendah Adalah Pilihan Tiongkok
  2012-11-23 11:39:49  CRI

Menjelang penyelenggaraan Konferensi PBB di Doha tentang perubahan iklim pada 26 November, pemerintah Tiongkok lalu meluncurkan laporan tahunan tentang kebijakan Tiongkok dalam menanggapi perubahan iklim. Dalam laporan ini diulas kebijakan dan langkah yang diambil Tiongkok untuk meredakan dan menyesuaikan diri dengan perubahan iklim. Wakil Ketua Komisi Reformasi dan Pembangunan Nasional Tiongkok Xie Zhenhua menyatakan, Tiongkok akan berupaya mengontrol emisi karbondioksida dan gas emisi, namun adalah tidak adil dan tidak rasional jika Tiongkok dituntut mengurangi emisi secara mutlak pada tahap sekarang. Xia Zhenhua menyatakan, dalam Perundingan Doha, strategi Tiongkok tidak akan mengalami perubahan.

Xie Zhenhua mengatakan, pilihan Tiongkok untuk mewujudkan perkembangan ilmiah dan berkelanjutan sesuai kondisi negara adalah dengan pembangunan hijau, pembangunan rendah karbon, dan pembangunan sirkular.

"Kondisi negara Tiongkok adalah berpenduduk banyak, namun dengan sumber yang relatif kurang. Volume kepemilikan per kapita Tiongkok terhadap sumber utama yang mendukung pembangunan ekonomi tidak sampai separuh dari rata-rata dunia. Kapasitas lingkungan Tiongkok terbatas, ekologi masih lemah. Saat ini masyarakat menyatakan tidak puas terhadap lingkungan sekarang. Masalah sumber daya, energi dan lingkungan sudah menghambat perkembangan Tiongkok. Tiongkok tidak punya pilihan selain kecuali meningkatkan efisiensi pemanfaatan sumber daya dan efisiensi pemanfaatan energi melalui pembangunan hijau, pembangunan rendah karbon, dan pembangunan sirkular, sekaligus mengembangkan energi baru dan pada akhirnya mewujudkan target pembangunan masyarakat sejahtera dan pembangunan berkelanjutan. Oleh karena itu, satu-satunya pilihan bagi Tiongkok adalah pembangunan hijau dan pembangunan rendah karbon."

Volume emisi karbondioksida di Tiongkok masih tinggi. Mengenai hal itu, Xie Zhenhua menyatakan, Tiongkok memang menghadapi tantangan yang amat besar, namun ini merupakan persoalan yang harus dihadapi dalam pembangunan.

Xie Zhenhua menyatakan, masalah yang akan diselesaikan dalam konferensi Doha tahun ini mengekspresikan "tanggung jawab sama, kewajiban berbeda" dalam kerangka konvensi, negara-negara maju perlu terlebih dahulu mengurangi emisi dalam skala besar. Sementara itu, negara-negara berkembang perlu aktif beraksi untuk menanggapi perubahan iklim sesuai dengan tuntutan konvensi dan protokol serta mendapat dukungan dana dan teknik dari negara-negara maju. Xie Zhenhua mengatakan, Tiongkok sudah berkomitmen dan mengambil langkah tanpa mendapat dukungan dana dan teknik dari negar-negara maju.

"Tiongkok sudah berjanji dan mengambil langkah untuk menurunkan 40 hingga 45 persen emisi karbon pada tahun 2020 dari emisi tahun 2005. Selama Repelita ke-11, Tiongkok telah menurunkan 20 persen. Selama Repelita ke-12, Tiongkok akan menurunkan 17 persen. Mengenai kapan Tiongkok memikul kewajiban pengurangan emisi yang mempunyai daya hukum, inilah persoalan yang perlu dirundingkan dan diselesaikan dalam konferensi Doha."

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Sampaikan Laporan di Depan Kongres Nasional ke-19 PKT
• Kongres Nasional ke-19 PKT Dibuka, Xi Jinping Minta PKT Memulai Perjuangan Membangun Negara Sosialis Modern
• Tiongkok Masuki Era Baru
• Bahasa Mandarin Jadi Bahasa Asing Kelima Prancis
• Korsel dan AS Akan Revisi Persetujuan Perdagangan Bebas Antara Kedua Negara
• Industri Mebel Tiongkok Tampil di Indonesia
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040