Ini Dia 'Tiga Kesalahan Besar' Pemerintah Trump, Perang Dagang yang Dipicunya Ditakdirkan Gagal
  2018-04-09 12:11:33  CRI
Kita kerap kali menjumpai hal-hal yang mirip dalam sejarah, terkadang membuat kaget karena saking miripnya. Perang dagang yang dilancarkan Pemerintah AS terhadap Tiongkok membuat orang-orang teringat pada sebuah kalimat yang pernah diucapkan Bradley, Kepala Staf Gabungan AS pada zaman Perang Korea, yang berbunyi: "jika kami memperluas perang hingga Tiongkok, itu akan merupakan sebuah perang keliru yang dilancarkan pada waktu yang salah, di tempat yang salah, dan ditujukan pada musuh yang salah." Kini, pemerintah Trump memicu perang dagang dengan Tiongkok, dan melakukan "tiga kesalahan besar" sehingga dipastikan akan berujung pada kegagalan.

Kesalahan pertama adalah pemikiran yang salah

Zaman terus melangkah maju, tetapi pemikiran pemerintah Trump masih terhenti pada abad yang lalu, dan masih saja menjadikan "zero-sum game" sebagai tolak ukurnya sendiri. Pemerintah Trump mengincar 'Made in China 2025' sebagai sasaran perang dagang kali ini, tujuannya ialah memberikan pukulan telak terhadap industri manufaktur teknologi tinggi Tiongkok melalui pembatasan terhadap teknologi dan HaKI. Di sisi lain, langkah itu juga bertujuan untuk menghalangi perkembangan Tiongkok dari negara besar ke negara yang kuat, sehingga AS dapat mempertahankan hegemoni di bidang ekonomi, dagang dan iptek.

Pemikiran tersebut terbentuk seiring dengan semakin melemahnya kekuatan AS, yang dibarengi dengan semakin meningkatnya kekuatan komprehensif Tiongkok.

Kesalahan kedua adalah salah memilih lawan

AS salah memilih lawan dalam perang dagang yang dilancarkannya terhadap Tiongkok.

Selama dua dasawarsa terakhir, Tiongkok telah menjadi ekonomi terbesar kedua di dunia, dan AS tentu saja memandangnya sebagai 'kambing gemuk'.

Langkah AS yang mengenakan bea cukai senilai US$ 50 miliar terhadap produk yang diimpor dari Tiongkok, hingga gembar-gembor untuk menambah bea cukai tambahan senilai US$ 100 miliar terhadap produk Tiongkok, belum juga berhasil membuat Tiongkok tunduk dan menyerah.

Kesalahan ketiga adalah cara yang salah

Donald Trump berasal dari kalangan pengusaha, dan selalu dengan bangganya menyebutkan apa yang disebutnya sebagai 'seni bernegosiasi'. Warna militer sangat kental dalam kelompok Donald Trump, dan menunjukkan rasa tidak percaya yang sangat kuat terhadap Tiongkok. Dalam hal ini, kita bisa melihat dua ciri khas yang menonjol dalam tekanan dagang yang dilancarkan AS terhadap Tiongkok. Pertama, menyerang Tiongkok namun juga ingin berbaik-baikan dengan Tiongkok, dan melancarkan pemerasan terhadap Tiongkok; kedua, mengancam dan menakut-nakuti Tiongkok sehingga memaksa Tiongkok menyerah.

Menghadapi perang dagang yang dilancarkan AS, Tiongkok membalas dengan tegas, ini tidak hanya untuk melindungi kepentingan negara, tapi juga untuk memelihara sistem perdagangan multilateral global.

Jika perang dagang meletus, Gedung Putih akan menyesal akibat 'tiga kesalahan' seperti yang disebut Bradley sebelumnya, namun hingga waktunya tiba, penyesalan sudah sangat terlambat.

Stop Play
Terpopuler
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
• Xi Jinping: Hijaukan Bumi Tanah Air
• Presiden Tiongkok Kirim Kawat Ucapan Selamat kepada Presiden Terpilih Mesir
• Xi Jinping Menerima Surat Kepercayaan Dubes Baru Enam Negara
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040