Hari Peh Cun
  2009-06-12 15:11:42  CRI

Hari Peh Cun yang di Tiongkok disebut hari Duanwu jatuh pada setiap tanggal 5 bulan ke-5 Imlek. Bersama dengan Festival Musim Semi atau Tahun Baru Imlek dan Festival Tiongciu atau Festival Pertengahan Musim Rontok, merupakan tiga hari raya tradisional yang paling besar di Tiongkok.

Tentang asal usul Festival Peh Cun, penjelasannya bermacam-macam. Ada yang menganggap bahwa hari raya ini berasal dari kebiasaan rakyat merayakan Festival Xiazhi (Pada hari itu, siang hari di belahan utara bumi paling panjang dan malam paling pendek karena sinar matahari pada hari Xiazhi justru tepat di atas garis balik utara.)

Tapi ada juga orang yang menganggap bahwa hari raya Peh Cun berasal dari kebiasaan pemujaan totem rakyat yang bermukim di daerah aliran Sungai Yangtze. Namun umumnya orang Tionghoa menganggap bahwa Hari Peh Cun adalah satu festival yang diadakan untuk memperingati Qu Yuan, seorang pujangga Tiongkok yang patriotik. Qu Yuan pernah menjadi pejabat tinggi Negara Chu pada Zaman Negara-negara Berperang dari tahun 475 sampai 221 Sebelum Masehi. Pada zaman itu, Tiongkok terpecah belah menjadi 7 negara yang saling berperang. Berangsur-angsur, Negara Qin di bagian barat laut Tiongkok, kira-kira di Propinsi Shaanxi sekarang semakin kuat dan mengancam keamanan ke-6 negara yang lain. Qu Yuan yang patriotik mengusulkan kepada Raja Negara Chu, yang kira-kira terletak di Propinsi Hunan Tiongkok Selatan sekarang, agar bersekutu dengan Negara Qi dan bersama-sama melawan Negara Qin, namun gara-gara adu domba beberapa pejabat lain yang memihak Negara Qin, Qu Yuan dipecat dari jabatannya oleh Raja Negara Chu dan hidup dalam pembuangan. Pada tahun 278 Sebelum Masehi, Negara Chu ditaklukkan oleh Negara Qin. Pada tanggal 5 bulan ke-5 Imlek tahun itu, Qu Yuan bunuh diri dengan menceburkan diri ke Sungai Mi Luo. Konon setelah Qu Yuan bunuh diri, penduduk setempat berdatangan ke sungai itu untuk mencari jenazahnya seraya membuang bacang ke sungai itu agar ikan di sungai itu tidak menggerogoti jenazahnya. Lama-kelamaan kegiatan itu menjadi suatu tradisi dan setiap tanggal 5 bulan ke-5 Imlek penduduk setempat pasti mengadakan lomba dayung untuk memperingati Qu Yuan. Kegiatan ini sekarang juga diikuti oleh para peserta dari negara-negara lain. Pada hari Pehcun pasti disajikan bacang.

Selain bacang, pada hari Peh Cun disajikan pula telur bebek asin dan arak. Kedua makanan itu dianggap rakyat berperan sebagai penangkal malapetaka.

Selain makanan, pada hari Peh Cun rakyat Tiongkok mempunyai kebiasaan untuk mendekorasi rumahnya secara khusus. Misalnya setiap rumah akan memasang rumput Aicao dan rumput Caopu, dua tumbuhan obat yang dipercaya bisa berfungsi menangkal malapetaka, dan juga dapat menghalau gangguan nyamuk dan serangga berbisa lainnya yang banyak muncul pada awal musim panas ketika sering turun hujan. Selain itu, pada hari Peh Cun, orangtua akan membuat bungkus bumbu harum yang berbentuk harimau, labu kendi dan sebagainya untuk diberikan kepada anak-anak, dengan harapan anaknya dapat hidup tenteram dan bahagia.

Lomba perahu naga adalah salah satu kebiasaan penting pada hari Peh Cun di daerah sebelah selatan Sungai Yangtze. Konon kebiasaan itu juga berkatian dengan Qu Yuan. Menurut cerita, setelah Qu Yuan terjun ke dalam Sungai Miluo, rakyat setempat dengan mendayung perahu berusaha menolongnya. Lama-kelamaan mendayung perahu menjadi adat istiadat pada hari Peh Cun.

Stop Play
Terpopuler
• Xi Jinping Temui Pangeran Andrew Edward
• Xi Jinping Sebut Tiongkok Akan Berkembang dalam Lingkungan Keterbukaan
• Xi Jinping Memimpin Sidang Pertama Komisi Pekerjaan Urusan Luar Negeri Komite Sentral PKT
• Tiongkok Siap Berikan Pembalasan Terhadap Tarif Impor Baru AS
• Wang Yi Temui Menteri Luar Negeri Korea Utara Ri Yong Ho
• Xi Jinping Adakan Pembicaraan dengan Presiden Zimbabwe
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040