Kemudian perjalanan kami lanjuti dengan mengunjungi kuil Lingyin, kuil Enam Pagoda, Gua Naga Kuning, tempat produksi sutera dan teh. Tiap-tiap kunjungan menghabiskan waktu antara 30 menit hingga 1 jam.
Kuil Ling Yin
Berlokasi di kaki bukit Lingyin sebelah barat laut kota, kuil ini dibangun pada masa Dinasti Jin Timur pada tahun (317-420). Dengan tinggi aula utama atau disebut dengan Aula Sakyamuni sekitar 33,6 meter merupakan karya agung bangunan kuno dengan satu cerita dan atap ganda.

Sementara itu di depan aula utama terdapat dua pagoda bersegi delapan dan dua buah menara batu yang berisi Buddha sutera terletak di depan Aula Lokapala, semuanya dibangun pada masa Lima Dinasti (907-960).
Sedangkan di gua-gua Bukit Feilai, terdapat 300 ukiran batu Buddha yang telah diukir sejak masa Lima Dinasti, Dinasti Song (960-1279), dan Dinasti Yuan (1271-1368). Ukiran batu yang anggun tersebut mengandung nilai artistik yang tinggi.
Enam Pagoda atau Pagoda Liuhe
Enam Pagoda atau Pagoda Liuhe merupakan pagoda yang terkenal di mana dibangun di atas sungai Qiantang. Pagoda ini pada awal mulanya dibangun pada masa Dinasti Song Utara (960-1127). Pagoda tujuh cerita dengan tinggi sekitar 59.89 meter, memiliki 13 buah cerita, keunikan dari pagoda ini ialah dibangun dengan bata dan kayu, dengan atap yang lancip menjulang tinggi ke arah puncak.
Pagoda ini memberikan pemandangan istimewa di sepanjang Sungai Qiantang.
Enam Pagoda dinamakan seperti keenam kitab undang-undang Buddha. Pagoda ini juga digunakan sebagai mercu suar, dan seperti memiliki tenaga gaib untuk menghentikan sumur bor pasang yang bergemuruh di atas Sungai Qiantang pada pertengahan bulan September setiap tahunnya.
Gua Naga Kuning
Gua Naga Kuning dibangun pada tahun 1985 di Gua Huangiong di bagian barat Bukit Qixia. Tempat ini merupakan taman sederhana dan anggun yang meniru gaya Dinasti Song (960-1279).
Di taman tersebut terdapat rumpun-rumpun bambu lebat, perumahan teh, dan perumahan umum.
Para pemain, pelayan toko, dan restoran di taman ini, semuanya memakai kostum zaman Dinasti Song. Di sini para wisatawan dapat menikmati lagu dan tarian kuno dari opera Yue dan musik tradisional.

Di dunia, tiada tempat yang memiliki kepercayaan yang tetap dipelihara sejak zaman nenek moyang, atau orang sekarang menyebutnya dengan takhayul, cerita yang bisa dipercaya atau tidak dipercaya, tergantung pada diri masing-masing orang. Demikian pula di Tiongkok sendiri, kepercayaan umum yang memiliki sejarah panjang ini masih dipercaya dan dipelihara hingga kini.

















