|

Tempat pameran permanen yang luas seluruhnya 10.000 meter persegi ini memperlihatkan dengan sangat hidup dan mengagumkan serta penuh daya cipta keadaan Shanghai "tempo dulu". Obyek peninjauan ini mendapat julukan "Rumah Patung Lilin Shanghai Lama." Inilah karya agung kolektif sejumlah besar seniman seniwati bersama rekayasawan dan juru teknik kelas tinggi, dengan dukungan buruh ahli. Balai Pameran yang dibagi menjadi enam bagian ini menampilkan citra Shanghai dari masa ke masa, terutama dari awal 1920-an sampai 1940-an. Bagian pertama menampilkan perkembangan alat angkut penumpang yang melayani public Shanghai. Kota ini tumbuh dari sebuah kampung nelayan kecil di masa 700 tahun SM, menjadi Kabupaten Shanghai di masa antara abad ke-7 dan ke-9 M, kemudian menjadi Kota Shanghai sesudah abad ke-14 M, dan sejak tahun 1843 menjadi bandar terbuka dan "Metropolis di Timur Jauh." Inggris adalah yang pertama membentuk daerah konsesi di Shanghai pada tahun 1845, disusul oleh Amerika Serikat dan Prancis di tahun 1848. Begitulah,

pengunjung dapat menyaksikan kereta kecil roda satu tanpa dinding tanpa atap, sepeda yang mulai muncul awal dasawarsa 1870-an, tandu tertutup, angkong, kereta kuda roda empat, beca dengan pengemudi di belakang, beca dengan pengemudi di depan, tram listrik yang muncul pada tahun 1908, mobil sedan impor model tahun-tahun 1920-an dan 1930-an, dan mobil sedan buatan Shanghai sendiri merek Fenghuang (Burung Hong) dasawarsa 1950-an, didampingi satu sedan model lain lagi buatan Shanghai dasawarsa 1960-an. Ditambahkan pula beberapa sedan model baru yang dibuat di Shanghai dalam dasawarsa terakhir ini. Berbagai kendaraan yang diperagakan itu adalah benda aslinya atau tiruan yang sangat mirip benda aslinya. Penumpang dan pengemudinya adalah patung lilin mirip orang sebenarnya dengan pakaian dan dandanan sesuai dengan gaya zamannya. Kuda besar penarik kereta itu pun patung lilin, tapi alangkah miripnya. Kita melihat toko obat Tionghoa, yang pemjualnya sedang meracik obat, tukang besi dengan alat-alat yang sangat sederhana, keluarga tani miskin dan nelayan miskin, kedai arak dengan gudang tempat menyimpan arak dalam tempayan tembikar, kedai teh berukuran besar yang sedang ramai dikunjungi pelanggan, pertunjukan opera daerah, manajer perusahaan dan sekretarisnya yang sedang sibuk bekerja di kantor, ruangan besar bursa efek (pasar saham) penuh dengan pelaku bisnis jual beli saham yang sedang tawar-menawar dengan mengeluarkan suara hiruk-pikuk, bocah penjaja koran di pinggir jalan, anak-anak yang sedang bermain mengadu jengkerik, penjual ikan asin di warungya, penjual dan pembeli di kedai kecap dan taoco, banyak orang berpakaian bagus sedang berdansa di ruangan gedung besar, sejumlah orang sedang mengikuti kebaktian di gereja, sidang pengadilan di daerah konsesi Inggris sedang memproses perkara, keluarga berduit sedang main mahjong, dan masih banyak adegan lainnya. Mengagumkan. Perpaduan penataan benda pamer dengan sistem suara dan pencahayaan, penggunaan seni rupa dan fotogafi serta sinematografi, semuanya serba pas. Kesan pokok setelah menyaksikan citra Shanghai "tempo dulu" itu ialah kepuasan lahir batin. Ada hiburan, ada pengetahuan, dan ada apresiasi.
1 2 3 4 5 6
|