Ketika Sejarah dan Turisme Bergandeng Tangan
  2011-11-10 15:24:06  CRI

-- By Dharmawan

Merah mengawal hari di Gunung Maren. Matahari sebenarnya tidak terlihat karena tertutup kabut, dan putih yang pekat menyelimuti seluruh penjuru perbukitan, tetapi gelora merah sudah terasa sejak kami memasuki bangunan sederhana di kaki bukit. "Matahari di Hati Tidak Akan Tenggelam untuk Selamanya," demikian kata barisan huruf emas bertahta di atas latar belakang dinding merah. Ribuan wajah Chairman Mao berjajar rapi di balik kaca, dalam berbagai pose dan ukuran, mulai dari lempeng lencana mungil untuk disematkan di baju sampai piringan logam besar seukuran wajan.

Dulu di sini, Chairman Mao pernah menempatkan bataliun tentara. Tempat ini juga adalah basis perjuangan melawan penjajah Jepang. Destinasi wisata ini bukan sekedar untuk melihat gunung dan air, tetapi juga untuk menggugah rasa cinta tanah air dan kesadaran akan sejarah. Merah, punya arti lain dari "merah" yang kita kenal di Indonesia. Merah di negeri ini adalah warna dari komunisme.

Poster-poster zaman revolusi yang terpampang dalam museum mungil itu menggambarkan ingar-bingar para buruh Tiongkok menyanyikan lagu mars revolusi, atau para serdadu dengan senapan yang teracung, atau para petani yang menari di persawahan. Para pengunjung, kebanyakan generasi muda Tiongkok yang dibesarkan pasca zaman revolusi, sibuk mempelajari setiap item pameran. Masa revolusi itu terasa begitu jauh dan nostalgik dari kehidupan Tiongkok modern di abad milenium.

"Wisata merah," pemandu berkata, "adalah bagian untuk membangkitkan patriotisme." Gunung Maren adalah satu destinasi "wisata merah" utama, napak tilas dari perjuangan panjang Partai Komunis.

1 2 3 4 5 6 7
Stop Play
Terpopuler
• Hari Berkabung Nasional, Tiongkok Peringati Korban Pembantaian Massal Nanjing
• Tiongkok Usulkan Pelucutan dan Non-Proliferasi Senjata Kimia secara Seimbang
• Li Keqiang Hadiri Peringatan Genap 5 Tahun Kerja Sama 16+1
• Pertemuan Tingkat Tinggi Ketiga Hubungan Antarmasyarakat Tiongkok-Indonesia Digelar
• KTT ASEAN dan Pertemuan Pemimpin Asia Timur Ditutup
• PM Tiongkok Hadiri KTT Asia Timur ke-12
Indeks>>
Komentar Pembaca
• Surat dari pendengar setia Bpk. Rudi Hartono
5 tahun sudah berlalu saya bersama rekan H Sunu Budihardjo mengunjungi Kota Beijing dimana telah terukir  kenangan terindah dalam kehidupan saya dalam memenangkan Hadiah Utama 60 tahun hubungan diplomatic Tiongkok – Indonesia dan 60 tahun berdirinya China Radio International. Saya bersama rekan H Sunu Budihardjo menuju Beijing pada 12 Juli 2010 disambut hangat oleh salah satu penyiar CRI, Nona Nina di Bandara International Beijing.  Kami pun menginap di salah satu hotel di Beijing untuk melakukan perjalanan wisata kota Beijing. Berikut tempat wisata yang kami kunjungi adalah :
• 0062813****0007
1. CRI (Bahasa Indonesia) disiarkan melalui Elshinta. Sekarang pindah gelombong berapa ? 2. Apa CRI (Bahasa Indonesia) tdk diadakan lagi di Indonesia ? Mohon balasan !
• 0062813****2398
halo,sy orang china yg belajar di indonesia, tadi sy mendengar acara LENTERA, judulnya Hunan. dalam perbincangan ini, mereka bilang di China ada 31 propinsi, informasi ini salah,sebenarnya di negara sy ada 34 propinsi.
• 0062852****5541
bpk maliki yangdhsebut roh papaptlimo pancer semua itu roh goep kalao orang yang ber agama itu beri nama para dewa itusemua menyatu dengan alam papat nomer satu aer yang disebut kakang kawa dua adik ariari tiga puser empat gete atau dara yang alam papat aer bumi angen api makanya kalau sembayang harus aranya kesitu itu yang benar roh empat itu yang menjaga manusia tiga alam semua meyakinni agama menyimpang dari itu sekarang alam suda rentan karena manusia suda menyimpang dari itu orang kalau jau dari itu tidak bisa masok suargo yangdi sebut suargo artinya sokmo masok didalam rogo manusia lagi bareng sama
Indeks>>
© China Radio International.CRI. All Rights Reserved.
16A Shijingshan Road, Beijing, China. 100040